Walhi Riau Tuding RAPP Arogan

Walhi Riau Tuding RAPP Arogan

- detikNews
Jumat, 04 Apr 2008 16:37 WIB
Pekanbaru - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Riau menilai  PT RAPP bersikap arogan. Perusahaan tersebut mengerahkan karyawannya menghalangi tugas kepolisian untuk mengambil kayu lelangan.
 
"Polisikan sedang menjalan tugasnya sebagai alat negara untuk mengamankan barang bukti, kenapa dihalang-halangi. Inikan sama saja RAPP menunjukan arogansinya. Mestinya polisi menindak tegas siapa dalang di balik pengerahan karyawan itu," kata Direktur Walhi Riau, Jhoni S Mundung dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (4/4/2008).
 
Menurut Jhoni, sikap kerasa kepala RAPP tersebut tak ubahnya mereka menganggap konsesisinya seperti negara dalam negara. Sehingga mereka merasa paling berhak atas kawasan itu.
 
"Selama ini masyarakat di sekitar pabrik RAPP juga banyak yang mengeluh dan kesal melihat sikap RAPP. Bayangkan untuk melintas di jalan koridor RAPP, masyarakat mesti menunjukkan kartu identitas. Memangnya rakyat itu maling," kata Jhoni.

Sudah begitu, kata Jhoni, Menteri Kehutanan MS Kaban, malah selama ini terkesan menganakemaskan perusahaan bubur kertas terbesar di Asia Tenggara itu. Mestinya Menhut mencatat insiden bentrok tersebut sebagai bukti RAPP tidak taat aturan hukum di negara ini.
 
"Selama ini kami bingung, Menhut itu menteri negara atau menterinya RAPP. Sebab, selama ini Menhut terkesan tutup mata atas semua aib RAPP. Seperti, banyaknya anak perusahaan mereka yang membabat kawasan hutan bergambut. Malah pembabatan hutan gambut yang jelas melanggar aturan itu atas rekomendasi Menhut MS Kaban," kata Jhoni.

Tudingan Walhi Riau RAPP bersikap arogan dibantah Humas PT RAPP, Troy Pantaw. Menurutnya, RAPP malah menyesalkan dan sedih serta prihatin atas peristiwa yang tidak diharapkan tersebut.
 
"Ada puluhan karyawan kami dilukai akibat bentrok mempertahankan diri itu. Kami mohon perlindungan aparat penegak hukum dan kepastian berusaha secara kondusif dari pemerintah," kata Troy.

RAPP berharap semua pihak memahani duduk perkara ini secara benar. "RAPP ibarat suatu rumah yang terbuka untuk semua pihak, namun tetap harus ada izin resmi yang harus disetujui untuk memasukinya. Dalam kasus bentrok kemarin, seyogyanya CV Gunung Mas (pemenang lelang kayu) harus bertanggungjawab atas insiden itu," kata Troy. (cha/djo)


Berita Terkait