"Itu (akibatnya) bisa macam-macam. Tidak konsentrasi bekerja, mudah tergoda macam-macam dalam menangani kasus yang besar, itung-itungan angka miliaran dan triliunan. Tapi dia sendiri masih mikir untuk kehidupannya bagaimana," kata Wakil Jaksa Agung Muchtar Arifin.
Muchtar menyampaikan pernyataan inu di Kejagung, Jl Sultan Hasanuddin, Jakarta Selatan, Jumat (4/4/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Muchtar tak menampik realitas ada pegawai yang menerima suap. Namun tentu tidak didiamkan begitu saja.
"Ini realita dan kita tidak pernah diamkan. Anda tahulah, bagaimana tindakan yang kita ambil. Kita tidak akan membenarkan walaupun dengan gaji yang ada sekarang sehingga boleh suap dan boleh korupsi," tegas Muchtar.
Kasus Urip apa contohnya? "Ya, saya kira salah satu faktor yang tidak bisa pungkiri. Walaupun bukan satu-satunya faktor yang ada," jawab dia.
Lalu apa ini menjadi jaminan kalau tunjangan dinaikkan tidak ada jaksa seperti Urip? "Ya, itu kan saya katakan salah satu faktor masalah kesejahteraan. Tapi kan ada faktor yang lain yang harus kita pelajari dengan sistem," imbuh Muchtar. (mly/nvt)











































