Demikian kesimpulan riset yang dilakukan di AS yang diterbitkan dalam jurnal internasional Birth, seperti dilansir harian Sydney Morning Herald, Jumat (4/4/2008).
Studi ini melibatkan lebih dari 8 juta kelahiran di AS selama kurun waktu 4 tahun. Studi ini hanya mencakup wanita yang masa hamilnya antara 37 minggu dan 41 minggu dan tidak punya faktor-faktor risiko seperti diabetes atau hipertensi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut profesor kebidanan dan ginekologi di sekolah medis Universitas Nasional Australia, David Ellwood, risiko kematian itu masih terbilang sangat kecil.
"Kita punya cukup bukti untuk mengetahui bahwa caesar seharusnya hanya dilakukan ketika ada indikasi medis, namun kalau kita lihat keseluruhan risikonya, itu tidak begitu tinggi," katanya.
Menurut para pakar, bayi yang dilahirkan secara caesar awalnya kerap tidak responsif dan tak bisa bernafas tanpa bantuan.
Bayi-bayi itu kerap dimasukkan ke unit perawatan intensif pascakelahiran karena paru-paru mereka tidak berfungsi dengan baik. Karena itu tidak disarankan untuk menjalani operasi caesar jika tak ada komplikasi medis.
"Kita dirancang untuk melahirkan secara normal. Kapan orang-orang yang menyadari ini?" tanya Sekretaris Asosiasi Kebidanan Australia Hannah Dahlen menyikapi kian banyaknya pasien yang memilih caesar meski sebenarnya bisa melahirkan secara normal.
"Ketika bayi dilahirkan melalui vagina, cairan terhisap keluar dari paru-paru saat tubuh bayi terdorong melalui jalan kelahiran. Bayi kemudian bisa bernafas dengan paru-paru yang bersih," katanya. (ita/nrl)











































