DetikNews
Jumat 04 April 2008, 06:35 WIB

Balada Jembatan Ampera

- detikNews
Palembang - Tampaknya persoalan yang menimpa jembatan Ampera, hampir setiap saat selalu muncul. Kalau jembatan yang dibangun atas pampasan perang dari pemerintah Jepang tahun 1965 itu dapat menangis, mungkin air matanya memenuhi sungai Musi yang membelah kota Palembang.

Terakhir, balada yang menerpa jembatan Ampera adalah dugaan korupsi dalam pembuatan fender atau pelindung tiang jembatan. Memang dahulu sempat diisukan bahwa pembuatan jembatan Ampera menggunakan puluhan kepala manusia yang dimasukkan ke dalam adukan semen, pasir, dan koral, buat tiang jembatan.

Kepala-kepala manusia ini sebagai tumbal. Sampai saat ini, cerita soal anak hilang yang kepalanya dijadikan tumbal jembatan Ampera masih dituturkan, terutama di daerah pedalaman Sumatra Selatan.

Di tahun 1970-an, jembatan Ampera diributkan lantaran pemerintah terpaksa menghentikan fungsi naik-turun bagian tengah jembatan tersebut. Alasannya, efisien waktu. Waktu naik-turun badan jembatan bagian tengah selama 30 menit, ketika kapal besar melewatinya, dinilai mengganggu laju kendaraan yang melalui jembatan tersebut.

Tahun 1990-an awal masyarakat Palembang digemparkan dengan hilangnya bandul jembatan yang sebelumnya menjadi pemberat buat menaikkan bagian tengah badan jembatan. Sampai saat ini tidak diketahui siapa pencuri bandul besi baja tersebut.

Lalu setelah Soeharto jatuh, warga Palembang meributkan nama jembatan itu. Mereka menginginkan nama jembatan menjadi Sukarno bukan Ampera. Sebab, jembatan yang belum sempat diresmikan lantaran Sukarno keburu lengser awalnya akan diberi nama Sukarno bukan Ampera. Tuntutan ini tidak dipenuhi pemerintah dan hanya warna cat badan jembatan yang diubah. Bila sebelumnya berwarna kuning diganti menjadi merah.

Selama tahun 1970-an hingga 1990-an, kekumuhan di sekitar jembatan Ampera, khususnya di bagian bawah, selalu dipersoalkan. Baru di pertengahan tahun 2000-an, persoalan tersebut mulai teratasi. Lepas dari persoalan kekumuhan, kondisi daya tahan jembatan Ampera dipertanyakan banyak pihak. Selain faktor usia, juga seringkali tongkang yang membawa batubara menabrak tiang jembatan, sehingga menimbulkan kerusakan.

Berbagai pihak mengkhawatirkan kondisi jembatan. Bahkan, ada yang berspekulasi usia jembatan Ampera ke depan tidak akan lebih dari 10 tahun. Tapi, ada yang optimistis usia jembatan itu hingga 50-100 tahun.

Dan menjelang pemilihan kepala daerah di Palembang maupun Sumatra Selatan, muncul persoalan baru. Yakni soal keberadaan baleho pada tiang atas jembatan Ampera. Menurut sejumlah praktisi politik, baleho yang menampilkan gambar Syahrial Oesman (Gubernur Sumsel), Eddy Santana Putra (Walikota Palembang), dan Susilo Bambang Yudhoyono, merupakan kampanye. Baleho itu harus diturunkan.

Selain itu, keberadaan baleho tersebut merusak keindahan jembatan. Pemerintah Palembang tidak menurunkannya. Mereka berdalil, baleho itu merupakan sosialisasi program Visit Musi 2008. Bukan buat kampanye.

Dugaan Korupsi<\/strong>

Nah, pada Januari 2008 lalu, salah satu tiang fender atau pelindung tiang jembatan Ampera yang baru dibangun patah. Ini akibat ditabrak kapal tongkang yang membawa batubara. Sampai saat ini, klaim ganti rugi dari pihak penabrak yakni PT Batubara Bukitasam belum cair, sehingga pembangunan fender dihentikan. Termasuk pula tambahan anggaran dari APBN yang belum turun.

Namun, kepolisian daerah Sumatra Selatan menduga ada indikasi penyimpangan dari proyek tersebut. Satuan Tindak Pidana Korupsi (Tipidkor) Kepolisian Daerah Sumatra Selatan melakukan pemeriksaan langsung fender tiang jembatan Ampera. Mereka menduga pembuatan fender dari anggaran APBN sebesar Rp 5 miliar itu tidak sesuai bestek alias terindikasi dikorupsi.

"Seharusnya fender tersebut dapat bertahan dalam jangka waktu tahunan. Alasan kerusakan dikarenakan sering ditabrak oleh lalu lintas kapal, tidak dapat mewakili kerusakan yang dialami," kata Kasat III Tipidkor Polda Sumsel Kompol Budi Santoso.

Dia menuturkan pihaknya akan melakukan pemeriksaan awal dengan melengkapi dokumen pemeriksaan hasil penelitian yang saat ini baru mencapai 20 persen. Selanjutnya, Tipikor Polda Sumsel akan berkoordinasi dengan Badan Penelitian dan Teknologi (Balitek) Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang.

Koordinasi itu gunanya untuk meninjau lebih jauh proses pengadaan barang pembangunan fender tersebut, apakah sesuai dengan bestek yang diajukan sebelumnya. Jika terbukti jelas Budi adanya indikasi penyimpangan pengadaan barang sehingga mengurangi ketahanan fisik dari fender tersebut maka pimpinan proyek pembangunan fender segera diperiksa. Dia menuturkan tanggung jawab terkait patahnya tiang fender berada di tangan pimpinan proyek yakni Aidil Fitri.

Sejumlah anggota DPRD Sumatra Selatan, menduga pelaksanaan proyek tersebut memang tidak beres. "Kalau fender-nya bagus, bisa bertahan ditabrak kapal sebesar apa pun. Namun, ini baru beberapa kali ditabrak langsung rusak," kata Wakil Ketua Komisi IV DPRD Sumsel Saiful Islam.

Berdasarkan pengecekan di lapangan Saiful menemukan adanya kejanggalan yakni pembangunan fisiknya berukuran kecil, sehingga tidak mampu menahan benturan kapal kecil sekali pun. "Selain itu, besinya dilas dari depan yang orang awam pun tahu itu tidak kyat," katanya.

Saiful menjelaskan dirinya akan meminta pimpinan DPRD Sumatra Selatan untuk segera memanggil dinas PU Bina Marga dan kontraktor pemasangan fender.

"Mereka harus bertanggung jawab karena jembatan Ampera merupakan aset nasional dan urat nadi kota Palembang yang menghubungkan daerah seberang hulu dan seberang hilir. Kalau jembatan ini tidak ada, kita akan kehilangan kebanggaan dan kemacetan parah akan terjadi," kata anggota fraksi Partai Demokrat ini.

Melihat banyaknya persoalan terkait dengan jembatan Ampera, seorang perupa yang dulunya anggota Lekra (Lembaga Kesenian Rakyat) Bastian, dalam satu perbincangan berpendapat, "Selama jembatan itu masih bernama Ampera akan selalu muncul persoalan. Ya, berikan nama itu sesuai rencana awal yakni Sukarno," tandasnya.


(tw/ndr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed