"Saya melihat belum ada justifikasi Mega menggandeng Agung," kata pengamat dari lembaga kajian politik Indo Barometer, M Qodari dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (4/4/2008).
Menurut Qodari, kecenderungan elit politik memilih pasangan capres-cawapres dengan kombinasi yang saling melengkapi. Misalnya, sipil dengan militer, Jawa dengan luar Jawa, atau nasionalis dengan santri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, ada berbagai kecenderungan yang menjadi pertimbangan elit parpol dalam memilih cawapres. Yaitu, untuk meningkatkan suara dengan popularitas, untuk memperkuat kaki di parlemen, untuk menambah dana kampanye. Terakhir, adanya kecocokan personal antara capres dan cawapres.
Qodari menjelaskan, jika merunut dari pernyataan orang-orang dekat Mega, maka jelas yang dibutuhkan PDIP adalah peningkatan popularitas. Ketua FPDIP Tjahjo Kumolo menyebut cawapres pendamping Mega haruslah menjual untuk menambah suara. Bagaimana kans Agung?
"Agak sulit untuk 'ketemu' dengan Agung. Popularitas Agung masih terbatas. Meski dia Ketua DPR, tapi sosoknya belum sampai pada titik didih, belum memiliki getar-getar politik, belum ada resonansi politik yang meluas, yang bisa membantu untuk meningkatkan popularitas," urai Qodari.
(fiq/ndr)











































