Jadi Dermawan, Tak Hanya Beri Pengemis dan Lembaga Amal

Jadi Dermawan, Tak Hanya Beri Pengemis dan Lembaga Amal

- detikNews
Kamis, 03 Apr 2008 01:33 WIB
Jakarta - Banyak jalan menuju Roma. Banyak jalan pula untuk menjadi dermawan. Namun untuk itu, tak cukup memberi pengemis dan lembaga amal yang sifatnya bantuan jangka pendek.

"Pola memberi masyarakat kita masih tradisional atau konvensional. Seperti sedekah yang bersifat jangka pendek. Tiap ada bencana seperti banjir, bantuan selalu datang. Tapi kan nggak seterusnya bisa seperti ini," ujar Ketua Badan Pengurus Perhimpunan Filantropi Indonesia Ismid Hadad.

Ismid menyampaikan hal itu dalam jumpa pers publikasi hasil survei 'Pola dan Potensi Sumbangan Masyarakat di 11 Kota' di Auditorium Adhiyana, Wisma Antara, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (2/4/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ismid mengatakan mengapa sebaiknya masyarakat Indonesia menyumbang untuk kepentingan jangka panjang. Ismid mencontohkan dalam kasus banjir, masyarakat hendaknya menyumbang untuk mengatasi akar masalah banjir, sehingga banjir tak datang berulang kali.

"Kenapa tidak mengatasi sumber masalah banjir? Misalnya mengapa banjir, karena hutan rusak, sungai tak pernah dikeruk. Kita cari pokok permasalahannya apa. Itu perlu biaya yang besar, dan tidak bisa mengandalkan pemerintah saja," tutur dia.

Selain banjir, Ismid mencontohkan masyarakat bisa menyumbang untuk pemberdayaan ekonomi rakyat. Di tengah konsdisi ekonomi yang sulit, rakyat kecil banyak yang membutuhkan modal usaha. Untuk itu, masyarakat bisa menyalurkan dananya pada sejumlah lembaga yang kredibel di bidangnya, seperti LSM lingkungan, LSM yang memberdayakan ekonomi kerakyatan dan sebagaianya.

"Kalau bisa lebih bersifat membangun. Arahnya ke investasi sosial, meningkatkan kapasitas masyarakat. Jangan dikasih ikan terus. Kasih pancingnya biar bisa memancing sendiri," jelasnya.

Sementara peneliti yang melakukan survei, Hamid Abidinย  dari Public Interest Research and Advocacy Center (PIRAC) memaparkan, masyarakat semakin sadar akan pilihannya berdema semakin beragam. Tak hanya memberi pengemis di jalan atau menyerahkan bantuan ke badan amal.

Hamid memaparkan hasil penelitian dari 2.500 responden di 11 kota besar di Indonesia selama JUni-Desember 2007.ย  Dari 3 kategori peruntukan sumbangan, yaitu individu (teman, saudara, pengemis, orang kesusahan), keagamaan (organisasi keagamaan, tempat ibadah, upacara keagamaan, dan non-keagamaan atau umum (lingkungan, seni budaya, pemberdayaan ekonomi), ada catatan menarik pada kategori terakhir.

Di sumbangan umum, jumlah uang yang disisihkan meningkat untuk pemberdayaan ekonomi dari Rp 121.737 per orang per tahun pada 2004 menjadi Rp 198.738 per orang per tahun pada 2007. Peningkatan juga terjadi di program pembelaan hukum, dan seni budaya. Sebaliknya, penurunan jumlah sumbangan terjadi pada sektor kesehatan, pelayanan sosial, dan pendidikan.

"Ini juga karena kondisi ekonomi yang sulit, sehingga banyak yang memberi modal UKM. Kalau kesehatan dan pendidikan responden berpandangan sudah banyak pendidikan gratis yang disediakan pemerintah," kata Hamid.

Hamid juga mengatakan motif masyarakat dalam berderma masih didominasi tuntuna agama seperti zakat, dan adat seperti sinoman (iuran kematian), dan jimpitan (arisan).
(nwk/ken)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads