Jangan Menari dalam Irama Gendang Wilders

Laporan dari Den Haag

Jangan Menari dalam Irama Gendang Wilders

- detikNews
Rabu, 02 Apr 2008 21:37 WIB
Jangan Menari dalam Irama Gendang Wilders
Den Haag - Warga negara Indonesia di Belanda agar tetap terus waspada dan tidak terpancing dengan gejolak isu yang sedang berkembang. Jangan menari dalam irama gendang Wilders.

Demikian disampaikan Kuasa Usaha Ad Interim Djauhari Oratmangun, didampingi Sekretaris I Politik Amrih Jinangkung kepada detikcom, Selasa (1/4/2008).

Sehari sebelumnya KBRI Den Haag mewakili Indonesia hadir dalam pertemuan perwakilan negara-negara OKI dengan Menlu Belanda Maxime Verhagen terkait perkembangan isu 'Fitna'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Djauhari sambil mengutip pernyataan Presiden dan Menlu, menghimbau kepada masyarakat Indonesia terutama yang di Belanda untuk tetap tenang seperti sudah ditunjukkan sejauh ini. Sebab kalau tidak maka itu sejalan dengan apa yang diinginkan oleh Wilders, yang ingin menciptakan konflik antarumat beragama dan antarnegara.

"Kalau sampai kita terjebak dalam permainan yang dirancang Wilders, maka dia yang akan bertepuk tangan. Kita yang akan babak belur dan gigit jari. Jadi kita jangan terkecoh menari dalam iringan gendang yang sengaja ditabuh Wilders dan kawan-kawannya," tegas Djauhari.

Pihaknya berharap hubungan pemerintah dan masyarakat Indonesia-Belanda tetap dijaga sambil tetap mempertahankan prinsip-prinsip hubungan itu, yakni saling menghormati posisi dan kepercayaan masing-masing.

Saling Tidak Mengerti

Ditambahkan, bahwa KBRI Den Haag sedang menyiapkan dialog antarumat beragama dan keyakinan lainnya yang dijadwalkan pada awal Juni mendatang di Belanda.

Agenda ini sebetulnya merupakan kelanjutan dari dialog serupa yang sudah digelar KBRI beberapa waktu lalu demi terwujudnya kerukunan antarumat beragama dan perdamaian dunia. Jangan sampai ini buyar karena Wilders.

"Dialog yang terbuka akan semakin meningkatkan pengetahuan dan saling pengertian antarumat beragama dan antarbangsa, dalam hal ini terutama Indonesia-Belanda," tandas Djauhari.

Kelainan

Disampaikan bahwa sebelum Fitna disiarkan, KBRI Den Haag sudah menggelar pertemuan antarelemen WNI dengan latarbelakang berbagai agama untuk mengantisipasi dampak dari film Wilders itu.

Tanggapan mereka cukup positif dalam pengertian bahwa mereka mengetahui apa dampak dari penayangan film tersebut.

"Mereka lalu menentukan sikap untuk tetap dingin menanggapi penyiaran itu dan mereka meminta pemerintah Belanda untuk mengambil langkah-langkah yang dipandang perlu. Sejauh ini masyarakat Indonesia di Belanda tetap tenang. Tidak ada gejolak," demikian Djauhari.

Dikemukakan bahwa sebelumnya Dubes J.E Habibie dalam wawancara dengan De Telegraaf telah menggarisbawahi bahwa jika ada lebih dari 4 miliar umat beragama yang menghormati bahwa Al Quran itu kitab suci sebuah agama, lalu ada satu orang yang melecehkan, maka satu orang itu yang kurang waras.

"Itu posisi tegas yang disampaikan oleh Dubes Habibie," demikian Djauhari.
(es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads