Awalnya, acara yang digelar di Hotel Clarion, Jl Andi Pettarani, Makassar, Rabu (2/4/2008) ini berjalan tertib. Para mahasiswa yang berjumlah sekitar 1.000 orang itu duduk dengan rapi di kursi yang telah disediakan panitia.
Suasana kacau terjadi saat sesi tanya jawab dimulai. Para mahasiswa berebut ingin melontarkan pertanyaan kepada Sisno, yang baru 3 minggu menjabat sebagai Kapolda Sulsel itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terlebih saat beberapa orang mahasiswa nekat naik ke atas panggung, tempat Sisno dan sejumlah tokoh akademisi Makassar duduk. Alih-alih bertanya, para mahasiswa itu malah berorasi sambil menuding-nuding Sisno.
Para kaum intelektual muda itu menilai Sisno sebagai perwira Polri yang anti demokrasi. Sejak menjabat sebagai Kapolda, mantan Kadiv Humas Mabes Polri itu kerap membubarkan paksa aksi unjuk rasa yang digelar mahasiswa Makassar.
"Kapolda anti unjuk rasa dan tidak prodemokrasi," kata Arman, mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar dalam orasinya.
Menurut Arman, prosedur perizinan aksi unjuk rasa juga sangat berbelit-belit. Seharusnya, sambung Arman, pemberitahuan aksi unjuk rasa boleh dilakukan melalui SMS saja.
Mendapat 'serangan' dari mahasiswa, Sisno hanya tersenyum. Dia hanya meminta para mahasiswa tetap tertib dalam menyampaikan aspirasinya. "Bagaimana saya bisa mendengar pertanyaan kalian jika kalian semuanya berbicara," tutur Sisno.
Namun tak lama kemudian, suasana sedikit mereda. Sejumlah mahasiswa, terutama dari Universitas Hasanuddin, terlihat meninggalkan lokasi acara. "Kita pulang saja karena acara tidak berjalan sebagaimana mestinya," ungkap salah seorang mahasiswa Unhas.
Acara dengan tema "Dialog Interaktif dengan Elemen Mahasiswa se-Makassar. Menjaga Ketertiban dan Keamanan Masyarakat" itu digelar mulai pukul 16.00 WIB. Pihak panitia menyebar sekitar 500 undangan, namun jumlah mahasiswa yang hadir mencapai 1.000 orang. (djo/asy)











































