Implikasi pemaksaan dimana-mana hanya membuahkan dua sikap, menerima atau memberontak. Legowo dilengserkan diekspresikan dengan tutur andap-asor dan tindak mandhito sebagai cerminan tulus terhadap kehendak 'dewone partai' yaitu Gus Dur.
Atau pemberontakan versi kultur nahdliyin dengan memanfaatkan diplomasi, menerapkan politik karambol. Sentil sana sentil sini, disusul demo keprihatinan yang ujung-ujungnya adalah pseudo negasi. Perlawanan tersembunyi ! Naga-naganya, kesan ini yang diambil Cak Imin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melakukan perlawanan tapi tidak punya jalan, ibarat kebo buta. Bisa jadi liar nabrak kemana-mana. Jadinya, kasus Cak Imin mengarah ke sana. Wilayah personal, wilayah tabu, wilayah abu-abu diobok-obok, dan muncullah Partai Golkar 'kecipratan getah' serta tampil tokoh Senopati Cinta, yang dikalangan PKB disebut sebagai 'Ndoro Bagus'.
Yang disebut Ndoro Bagus itu adalah Sigit Haryo Wibowo. Dia muncul dari Golkar Jawa Tengah. Pengalaman politiknya cukup, dia tokoh pengusaha, masih muda, kaya raya, ambisius dan agak arogan, serta tentu, berwajah tampan. Komposisi kekurangan dan kelebihan yang melekat pada laki-laki ini yang membuatnya diberi julukan 'Ndoro Bagus', sebuah sarkasme yang plus minus.
Atribut Ndoro Bagus bagi Sigit, selain bagus (tampan), tampilannya juga memberi kesan ndoro (tuan). Minta penghargaan berlebih, agak sombong, dan sangat dekat dengan Yenni Gus Dur, putri jenius dari 'Sang Majikan' PKB. Mereka disebut-sebut menjalin kasih. Malah ada yang memvonis keduanya sudah nikah siri, makanya ada yang menjuluki Sigit juga sebagai
Senopati Cinta.
Secara politis, tokoh ini di PKB mirip Lembu Peteng. Tidak banyak yang tahu prosesnya, tiba-tiba saja Sigit yang masih terdaftar sebagai pengurus DPD Golkar Jawa Tengah itu menduduki posisi strategis di PKB. Ia mencuat jadi orang penting di basis partai ini, di Jawa Timur.
Kemunculan Sigit tepat saat PKB 'memborong kulkas'. Ketika di beberapa daerah kepengurusan partai ini dibekukan. Bersama Gus Aying yang juga pengusaha asal Jombang, keduanya mengelola 'manajemen konflik'. Ini yang mendatangkan masalah dan kelak terus-terusan mendulang perkara.
Kedatangan Sigit yang nyalawadi itu memperlebar friksi yang ada dalam partai ini. Kehadiran Sigit menyebabkan tokoh abu-abu PKB dipaksa menjadi hitam putih. Yang pro Gus Dur kian mengentalkan 'kultus' terhadap Guru Bangsa. Sedang yang kontra mengail peluang untuk mempertegas nilai tawar.
Gus Dur yang kharismatis, punya power, dan 'dikultuskan' dengan ilmu mantiq yang dipunya akhirnya menentukan sebuah sikap. Sikap untuk membuang orang-orang yang 'tidak dipercaya', 'tidak loyal', serta tokoh yang gampang mbalelo. Kader partai seperti Edy yang menduduki jabatan menteri daerah tertinggal, serta Cak Imin yang Ketum PKB adalah tokoh yang masuk kriteria ini.
Mereka jauh-jauh hari sudah diagendakan untuk 'disingkirkan'. Mereka dianggap kader partai yang tidak loyal, dan gampang ingkar. Itu pula alasan penulis di kolom ini sudah memprediksi apa yang terjadi hari ini di tahun kemarin. Sebuah kenyataan yang tinggal menunggu saatnya tiba.
Terus bagaimana jalan nasib PKB, Cak Imin, Edy, Yenny Wachid serta langkah Gus Dur berikutnya? Adakah semua yang tersurat itu betul adanya? Bak pagelaran wayang, ini baru tahap tancep kayon. Babak pembuka. Kisah yang lebih seru, romantis dan dramatis masih terbentang di depan. Kita tunggu !
Keterangan Penulis:
Djoko Su'ud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com. (Djoko Su\'ud Sukahar/iy)











































