"Saya kira lebih karena kecewa. Tanpa sadar orangtua tidak memahami jiwa anak, mungkin ada masalah lain yang dijadikan anak mengambil uang itu," kata pecinta anak, Kak Seto, kepada detikcom, Selasa (1/3/2008).
Menurut Kak Seto, bisa dimungkinkan ada kondisi yang tidak kondusif dalam keluarga mereka. Selain itu, anak hendaknya tidak dijadikan pelaku dalam kasus ini melainkan dijadikan korban.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sikap Fian ini, lanjut Kak Seto, bisa dikarenakan untuk menyelamatkan diri dari tekanan dan cap negatif yang sering dilontarkan orangtua. Orangtua hendaknya mengubah cara mendidik dan mengasuh yang selama ini keliru.
"Akhirnya dia semakin akrab dengan lingkungan dan sering lari dari rumah. Ini tidak wajar karena dia tidak merasa nyaman di rumah," urai dia.
Kak Seto menjelaskan, mendidik anak tidak hanya dengan mulut atau tangan. Melainkan dengan hati nurani. Cara mendidik dengan lebih banyak bicara dan main tangan justru menciptakan bibit permusuhan, pemberontakan, dan perlawanan dari anak. "Orangtua itu 7 kali berbicara, mendengar 1 kali. Coba mohon dibalik," tutur dia.
Kak Seto mengimbau, hendaknya kasus Fian tidak dipublikasikan terlebih dahulu, melainkan memanggil anak agar cepat kembali ke rumah. "Kalau dipublikasikan itu memposisikan anak sebagai pelaku kriminal. Ini akan membuat penolakan anak untuk kembali," ujar Ketua Umum Komisi Pelindungan Anak Indonesia ini.
Publikasi mengenai Fian membawa uang puluhan juta rupiah ini juga akan membahayakan. "Kalau jatuh pada orang yang tidak bertanggung jawab malah akan semakin lama dia disimpan," kata Kak Seto. (mly/nrl)










































