"Memang betul Bapak Otto Soemarwoto meninggal di Bandung pukul 00.15 WIB," kata pakar lingkungan Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), Ahmad Sobirin, kepada detikcom, Selasa (1/3/2008).
Menurut Ahmad, tiba-tiba Senin sore dirinya mendengar Otto masuk ICU karena liver yang dideritanya. "Saya belum tahu dimakamkan di mana. Dia memang sudah sepuh," imbuh dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Otto kemudian menjadi guru besar termuda di UGM saat mulai menjabat pada tahun 1960. Dari 1964-1972, ia menjadi Direktur Lembaga Biologi Nasional. Tahun 1972, ia merintis Pusat Penelitian Sumber Daya Alam dan Lingkungan dan bekerja di lembaga tersebut.
Selain itu, ia juga menjabat sebagai Direktur Lembaga Ekologi Nasional dari tahun 1972 hingga 1991. Pada tahun 1993, Otto bergabung dengan Business Council for Sustainable Development yang diketuai Bob Hasan. Dan pada tahun yang sama ia menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Pertanian Wageningen (Belanda).
Otto juga pernah menjabat sebagai Guru Besar (Emeritus) Lingkungan Universitas Padjadjaran di Bandung pada 2006. Dia merupakan pakar lingkungan yang menolak pembangkit listrik tenaga sampah. (mly/nrl)











































