Suasana lengang itu terlihat mulai dari ujung Jalan Malioboro di sebelah selatan pintu KA Stasiun Tugu, hingga depan Pasar Beringharjo di Jl Ahmad Yani. Hanya pemilik toko dan Malioboro Mal yang tetap buka.
Di depan toko sepanjang kawasan Malioboro yang biasanya dipenuhi ratusan PKL tidak ada satupun yang berjualan. Para PKL angkringan maupun pedagang asongan juga tidak tampak berjualan. Hanya para tukang parkir yang tetap bekerja di kawasan itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semua PKL sudah tidak ada yang berjualan lagi selama 24 jam untuk mendukung keistimewaan DIY dengan penetapan Sultan dan Paku Alam," kata Aries Fanani kepada wartawan seusai aksi, Senin (31/3/2008).
Menurut Aries, pihaknya sudah meminta masing-masing ketua paguyuban untuk memantau anggotanya agar sementara waktu tidak berjualan. Setidaknya ada 500 lebih PKL yang berjualan di kawasan Maliboro.
Paguyuban PKL di Malioboro yang tidak berjualan di antaranya anggota Koperasi Tridharma, KPPKLY, Pemalni, Angkringan Sorjan, PKL Roso Slamet, Komunitas Pedagang Beringharjo, Paguyuban Tri Manunggal, Handayani, hingga paguyuban tukang parkir Malioboro. Semua mendukung aksi yang dilakukan di halaman gedung DPRD DIY.
"Sekarang ini mereka sudah tertib. Yang sempat jualan sudah diimbau oleh masing-masing paguyuban untuk tidak berjualan dan mereka sudah bersedia," katanya.
Aries mengatakan kalau ada pengunjung di Malioboro yang kecele karena tidak bisa membeli oleh-oleh dari kawasan itu, pihaknya meminta maaf. Namun besok har Selasa semua PKL sudah berjualan lagi.
Aksi yang dilakukan ini untuk memberikan dukungan terhadap Sultan HB X dan Paku Alam IX untuk ditetapkan sebagai gubernur dan wakil gubernur DIY. "Kami menolak Pilkada sebab itu akan memecah belah warga Yogya," pungkas Aries. (bgs/djo)











































