Hal itu disampaikan Deputi Kepala BPPT bidang teknologi informasi, energi, dan material BPPT, Marzan Aziz Iskandar dalam workshop ADSB di Hotel Sheraton, Ir H Juanda, Senin (31/3/2008).
Menurut Marzan, ADSB memiliki efektifitas yang lebih dibandingkan radar dalam membaca data dari pesawat. Radar dalam melakukan pendeteksian akan terjadi deviasi ataupun kalibrasi. Sedangkan teknologi ADSB, pengiriman data dari pesawat lebih akurat sehingga bisa meminimalkan kesalahan pendeteksian.
"ADSB masih dalam tahap penyempurnaan, di mana ada data-data dari pesawat yang masih tidak bisa terdeteksi, terutama saat pesawat meninggalkan wilayah Indonesia. Kesalahan sekitar 10 persen kurang. Hal itu disebabkan efek dopler," jelas Marzan.
Menurutnya pihaknya masih terus melakukan pengkajian untuk menyempurkan teknologi pengamatan pesawat baru tersebut. "Penyempurnaan pun masih dilakukan oleh Australia yang telah memakai alat itu lebih dulu," ujarnya.
Tahun ini dalam APBN, Departemen Perhubungan telah menganggarkan dana sebesar Rp 80 miliar untuk pengadaan 14 ADSB. Tahun 2007, lima buah ADSB sudah diujicoba di daerah stasiun darat Kupang, Denpasar, dan Kepulauan Natuna.
Teknlologi ADSB adalah teknologi baru dalam pengamatan pesawat terbang yang merupakan kombinasi global positioning system (GPS), sehingga pesawat bisa terlacak posisi, kecepatan, arah angin, dan ketinggian. Alat ini bisa dipasang di pesawat atau stasiun darat dan lebih unggul dari radar. (ern/djo)











































