Boikot Ekspor Minyak ke Belanda Lebih Efektif

Boikot Ekspor Minyak ke Belanda Lebih Efektif

- detikNews
Senin, 31 Mar 2008 11:33 WIB
Jakarta - Munculnya film Fitna buatan Geert Wilders berbuntut panjang. Malaysia menyerukan kepada negara-negara Islam untuk memboikot produk Belanda.

Namun boikot produk Belanda dinilai tidak signifikan. Jika ingin efektif, lebih baik memboikot ekspor minyak ke Negeri Kincir Angin itu.

"Kalau langkah ekonomi tidak signifikan dengan memboikot produk-produk Belanda. Tetapi boikot ekspor bahan bakar minyak ke negeri Belanda oleh negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam," ujar anggota FPKS Suryama M Sastra kepada detikcom di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (31/3/2008).

Menurut Suryama, pemboikotan produk Belanda tidak akan berdampak pada perekonomian negeri tersebut. Sebab produk-produk Belanda, terutama di Indonesia, tidak terlalu banyak.

Justru perekonomian Belanda, lanjut Suryama, salah satunya bergantung kepada impor minyak dari negera-negera Islam.

Dia menduga, motif anggota parlemen Wilders memunculkan film bernada kebencian tersebut bertujuan politik, yaitu meningkatkan suara Freedom Party dalam Pemilu Belanda yang akan datang.

"Itu sebenarnya dalam rangka untuk kepentingan meningkatkan suara bagi partainya sebesar 10 persen. Dengan harapan film itu bisa memunculkan simpati dari warga Belanda," lanjutnya.

Selain itu dia juga mencium skenario internasional yang sengaja dilakukan dengan memunculkan film Fitna. Skenarionya adalah menjaga situasi permusuhan antara Barat dan dunia Islam.

"Politik kotor Wilders dan Freedom Party patut dicurigai ditunggangi konspirasi internasional, untuk mempertahankan permusuhan antara Barat dengan dunia Islam yang saat ini menggunakan agenda war against terrorism sebagai war against Islam," terang Suryama.

Karena itu menurut dia, Indonesia sebagai negara dengan umat Muslim terbesar di dunia harus berhati-hati menyikapi kasus tersebut. Indonesia harus pintar dalam memilih langkah politik, langkah ekonomi, maupun langkah diplomatik yang ditempuh.

Menurut Suryama, pernyataan sikap yang disampaikan pemerintah RI beberapa waktu lalu yang senada dengan PBB maupun PM Belanda Jan Peter Balkenende patut dihargai.

"Respons Indonesia dan internasional sudah bagus. Indonesia harus menunjukkan langkah integritas yang tidak emosional. Kita harus mengapresiasi positif yang dilakuan PM Belanda dan PBB," tandasnya. (nvt/nrl)


Berita Terkait