"Setelah ini mungkin air mata mereka habis saat nonton bareng (nobar) Piala Eropa," kata pengamat komunikasi asal UI Effendi Gazali dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (31/3/2008).
Hadirnya pejabat dan mantan pejabat di bioskop untuk menonton film negeri sendiri memang memberi hal yang positif. Kehadiran mereka dapat memompa industri film tanah air agar dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, kehadiran mereka di bioskop papan atas itu sangat bertolak belakang dengan kondisi tanah air. Apalagi di saat yang bersamaan, timbul masalah seperti sekolah rubuh dan peristiwa ibu dan anaknya yang mati kelaparan.
"Apa mereka juga menitikkan air mata saat sekolah-sekolah itu rubuh dan ada keluarga yang meninggal karena kelaparan," tuturnya.
Menurut Effendi, kehadiran para pejabat ini justru seperti menjadi alat bagi Pemilu 2009 nanti. Mereka membangun image kepada media kalau mereka peduli dengan perfilman nasional.
"2008 Ini memang saat yang bagus untuk tebar pesona ke pers. Dan secara kebetulan film itu alat yang bagus," ujarnya.
Namun, lanjut Effendi, kandungan film tersebut harus juga dipahami bagi para pejabat itu. "Film ini kan harus dipahami bagaimana perasaan cinta itu secara luas. Jadi apakah ketika para pejabat itu berkunjung ke sekolah rubuh juga menitikkan air mata," pungkasnya.
(ary/ary)











































