Dakwah 'Primus' Sampai Pretoria

Catatan dari Afsel

Dakwah 'Primus' Sampai Pretoria

- detikNews
Minggu, 30 Mar 2008 20:50 WIB
Pretoria - Allah SWT dapat menurunkan hidayah kepada siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Sementara manusia dapat menyebarkan ajaran Nabi Muhammad SAW pada siapa saja, kapan saja dan di mana saja.

Demikian prinsip yang diyakini Josse Rizal, seorang staf Sekretariat Negara yang turut dalam rombongan kenegaraan Presiden SBY ke Afrika Selatan dua pekan lalu. Di sela kerepotannya mengurus bagasi rombongan, ia berhasil menuntun seorang warga setempat memeluk agama Islam.

Peristiwa ini berawal dari perkenalan Josse dengan dua orang kulit hitam memasukkan kopor milik anggota rombongan ke dalam truk barang dari pesawat kepresiden di bandara Johannesberg untuk dibawa ke hotel Sheraton Pretoria (16/3). Dua orang yang ternyata sopir truk dan temannya itu bernama Abdul dan Jimmy.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Are you Muslim? I'm Muslim too. Assalamu'alaikum, we are brother," seru Josse menyambut perkenalan Abdul.

"Wa'alaikumsalam, my Indonesian brother," sahut Abdul gembira.

Jimmy rupanya tertarik melihat Josse dan Abdul langsung akrab hanya karena bertukar salam. Bujangan berusia 24 tahun beragama Nasrani itu kemudian bertutur belakangan ini dirinya pun tertarik pada ajaran Islam, namun terkendala sejumlah pertanyaan yang belum ditemukan jawabannya.

"Abdul can't ansrewed me," keluh Jimmy.

"Hey I'm just a muallaf. I'm sorry," timpal Abdul yang tengah melajukan truk di jalan bebas hambatan.

Jimmy kemudian menumpahkan semua pikiran dan pertanyaannya mengenai Islam pada Josse. Mulai dari stereotype bahwa Islam identik dengan teroris, penggunaan nama kaum Muslim yang selalu berbau Arab sampai pada beberapa perbedaan fundamental antara ajaran Islam dan Nasrani.

Maka dua jam perjalanan Johannesberg-Pretoria menembus malam yang hujan deras itu bagaikan diskusi mata kuliah study perbandingan agama. Untungnya saja Josse anggota Primus (pria musollah), hingga tidak kesulitan menjawab dan memberi penjelasan atas pertanyaan Jimmy yang bertubi-tubi.

"Terimakasih banyak atas pencerahannya. Makin kuat niat saya memeluk Islam. Josse bisa membantu?," tanya Jimmy setelah sempat tercenung sekian lama.

"Insya Allah bisa. Besok saya seharian ada di hotel. Jadi kalian bisa menghubungi saya jam berapa saja," jawab Josse.

Maka keesokan harinya, Josse sengaja tidak keluar hotel demi Jimmy dan Abdul yang bisa datang sewaktu-waktu. Namun hingga pagi berganti siang dan sore menjadi malam, yang ditunggu tidak juga datang.

Menjelang tengah malam, telepon kamarnya berbunyi mengabarkan bahwa Abdul dan Jimmy sudah menunggu di lobi hotel. Josse lalu meminta keduanya untuk segera naik ke kamarnya.

Pertemuan kedua itu digunakan Josse memaparkan kewajiban utama seorang Muslim. Yaitu mengucapkan khalimat syahadat, menunaikan salat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, membayar zakat dan melaksanana ibadah haji bila mampu serta menghindari memakan makanan yang dianggap haram di dalam ajaran Islam.

Ternyata tidak surut niat Jimmy menjadi seorang Muslim mengetahui itu semua. Josse lalu mengajak Jimmy dan Abdul bersama-sama berwudhu.

Di kamar mandi kamarnya, Josse menjelaskan maksud dan tujuan berwudhu. Yaitu setiap gerakan membersihkan adalah ungkapan rasa syukur pada Allah SWT atas anggota tubuh yang dikaruniakan sekaligus niat untuk memanfaatkannya demi kebaikan umat dan tidak mensia-siakannya dengan berbuat maksiat.

Setelah prosesi membaca dua kalimat Syahadat, ketiganya melaksanakan salat Isya berjamaah. Terlebih dahulu Josse menjelaskan maksud dari setiap gerakan salat serta doa yang mengiringinya dan harapan yang terkandung, karena ia yakin dua saudara barunya ini bakal kesulitan menghafal Al Fatihah atau doa iftitah dalam waktu singkat.

"Kapan saja Abdul dan Jimmy ada pertanyaan tentang Islam, segera SMS saya. Insya Allah saya menjawabnya, dan andai saya tidak tahu jawabannya saya akan carikan jawabannya ke orang-orang lebih tahu. Kalian juga jangan ragu-ragu bertanya pada sesama Muslim dan ulama di sini," ujar Josse usai salat.

Sebelum berpisah, Jimmy sempat menanyakan apakah tidak sebaiknya ia berganti nama sepertinya halnya dilakukan Abdul. Bila memang perlu, apakah nama berbau Arab yang sesuai untuk dirinya.

"Sama sekali tidak berkurang di mata Allah nilai seorang umatnya hanya karena masalah nama. Saya sendiri tidak merasa perlu merubah nama saya dari Josse menjadi lainnya," jawab Josse.

Seorang Muslim tulen memang tidak diukur dari nama atau pakaiannya. Melainkan dari konsistensi keimanannya pada Allah SWT dan keteguhannya menjalankan ajaran Nabi Muhammad SAW.
(lh/ary)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads