Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Palembang, Soleh Idrus, yang dihubungi detikcom, Minggu (30/03/2008), sangat menyesalkan munculnya fenomena tersebut. Menurut Soleh Idrus, nonton film bersama merupakan usaha para aktor politik membangun citra dirinya atau mengalihkan persoalan sebenarnya yang dialami masyarakat.
"Masyarakat kita kan kesadaran politiknya relatif rendah, jadi masih senang dengan tebar pesona para aktor politik seperti itu," kata Soleh. "Tapi, ini sebenarnya politik pembodohan," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ini sama halnya dengan kegiatan seperti melakukan pengobatan massal gratis, atau membagikan kebutuhan rakyat secara langsung seperti sembako atau peralatan sekolah.
"Ini tidak dapat disalahkan, karena memang sebagian besar rakyat kita senang diperlakukan seperti itu. Tapi, seharusnya, para aktor politik memberikan pendidikan politik bagi masyarakat, bukan memanfaatkannya. Kalau ini terlihat sekali, ambisi menjadi kepala daerah atau pemimpin," katanya.
Menghadapi fenomena ini, Soleh berharap para pejuang prodemokrasi, menjadi penengah antara masyarakat dengan para aktor politik dengan melakukan deal-deal politik yang bersifat program kerja.
"Kelaparan dan kebodohan ini kan tidak hanya diselesaikan melalui nonton gratis, berobat gratis, pembagian pelaratan sekolah. Harus ada program yang cerdas, yang mengubah kondisi. Kalau rakyat makmur, semuanya mampu membayar. Jadi, buatlah program menjadikan rakyat makmur, bukan berharap menerima sesuatu secara gratis," katanya.
"Saya percaya masih banyak akademisi, aktifis NGO, pers, ormas, dan mahasiswa, yang berpikir jernih," katanya.
(tw/iy)










































