'Pak Polisi, Tangkap Saja Anak Saya'

'Pak Polisi, Tangkap Saja Anak Saya'

- detikNews
Minggu, 30 Mar 2008 05:41 WIB
Palembang - Sejumlah orangtua di Palembang meminta polisi menangkap anak mereka. Eit bukan asal tangkap, tetapi bila anak mereka yang masih berseragam sekolah berkeliaran di jalan atau di mall.

Permintaan ini menyusul adanya tawuran antarpelajar yang merenggut korban jiwa.

"Kami minta nian, guru dan polisi mengontrol anak-anak kami di sekolah maupun di jalan, di luar jam sekolah. Kami tidak marah jika anak kami ditangkap bila terlihat ngumpul di jalan, di luar jam sekolah mereka," kata Haryati (44), warga Pasundan, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang, dalam perbincangan dengan detikcom, Minggu (30/03/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sekarang ini, kondisi ekonomi yang sulit, mendorong suami-istri harus bekerja, sehingga anak benar-benar dititipkan kepada guru ke sekolah. Jadi, kami berani bayar mahal, ya, minta tolong diawasi betul," pintanya.

Hal yang sama disampaikan Romi Harimbi (45), warga 3 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang. "Saya sama sekali tidak marah, kalau anak saya nongkrong di mall, entah minggat atau sudah pulang sekolah, tapi masih mengenakan seragam sekolah, ditangkap polisi. Tapi, ya, jangan dikerasi saja. Saya memang sering cemas melihat banyak pelajar keluyuran di mall atau di jalan-jalan pada saat jam sekolah atau sudah pulang," kata Romi.

Pernyataan Haryati dan Romi ini terkait dengan tawuran antarpelajar di Stadion Bumi Sriwijaya, Jalan POM IX, Palembang, Sabtu 29 Maret 2008 siang. Peristiwa itu menyebabkan Aryanto (17) pelajar SMA Ethika Palembang, tewas.

Warga Jalan Letnan Murod, Lorong Damar RT 3/7 No 325, Pakjo, Palembang, itu tewas dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Muhammad Hoesin (RSMH) Palembang. Kuat dugaan, korban tewas akibat luka tusuk sepanjang enam jahitan pada dada kirinya yang terlalu banyak mengeluarkan darah.

Menurut saksi mata, Syaiful (46), petugas keamanan gedung olahraga (GOR) yang tengah berada di lokasi kejadian, mengaku tidak tahu kronologis peristiwa berdarah tersebut. Sebab kejadiannya berlangsung begitu cepat. Hanya, menurut saksi, sekitar pukul 12.00 WIB dia melihat sekelompok pelajar berseragam putih abu-abu dan seragam pramuka yang diperkirakan berjumlah 30 orang mengejar rombongan korban.

Merasa dikejar, rombongan korban pun berpencar menyelamatkan diri. Korban yang berlari belakangan akhirnya tertangkap rombongan tersangka dan dikeroyok. Karena perlawanan tidak imbang, korban pun roboh.

"Saya tidak berani mendekat karena rombongan tersangka ramai sekali. Saya baru tahu ada korban,ketika rombongan tersangka bubar meninggalkan korban yang sudah bersimbah darah," kata Syaiful saat diperiksa polisi.

Kapolsekta Ilir Batat (IB) I AKP Imam Tarmudi SIk mengatakan, saat ini jajaran kepolisian Polsekta IB I belum dapat memastikan pelajar mana yang mengeroyok dan menusuk korban.
Β 
Saat ini pihaknya tengah mengumpulkan bukti-bukti dan keterangan para saksi untuk penyelidikan lebih lanjut."Tersangka dapat kita kenai pidana Pasal 170 KUHP tentang Pengeroyokan, dan secepatnya kita lakukan pengejaran," ujarnya. (tw/nvt)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads