Siapa Mau Jubah Harry Potter?

Siapa Mau Jubah Harry Potter?

- detikNews
Minggu, 30 Mar 2008 04:06 WIB
Sydney - Jubah yang membuat tak terlihat ala Harry Potter bisa jadi bukan sekadar khayalan lagi. Para peneliti tengah mengembangkan teknologi untuk merealisasikan jubah itu. Berminat?

Konsep pembuatan jubah ajaib itu sebenarnya datang dari para ilmuwan Inggris. Dan kini, para akademisi Australia bergabung untuk membuat jubah itu tak lagi sekadar impian.

Dr David Powell yang merupakan insinyur elektronik mengatakan, tim peneliti Pusat Fisika Nonlinear di Universitas Nasional Australia (ANU) telah mengidentifikasi atom artifisial. Atom tersebut dapat digunakan untuk memproduksi ilusi teknologi tingkat tinggi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Konsepnya telah disiapkan. Kami berharap bisa melihat alat itu secara nyata dalam dekade mendatang," ujarnya seperti diberitakan Sunday Herald Sun, Minggu (30/3/2008).

Versi nyata jubah ajaib Harry Potter membutuhkan metamaterial pintar. Metameterial itu terbuat dari atom-atom artifisial. "Sejuta kali lebih besar dari pada atom yang sebenarnya, dan artifisial atom ini bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan atom nyata," jelas dia.

"Bisa mengikat cahaya dengan cara tertentu, dan itulah makanya jubah tak terlihat itu bisa jadi nyata. Karena cahaya di sekitar objek diikat," imbuh Dr Powell.

Hasilnya, cahaya melangkaui benda yang diselubungi, dan sebagai gantinya mengenai layar yang ada di belakangnya. Itu makanya latar belakang menjadi terlihat, tak seperti objek yang ada di latar depan.

Dr Powell mengatakan, metamaterial telah menjadi teori scientific konvensional karena kemampuannya untuk memanipulasi jalan lintasan cahaya.

"Analoginya adalah apa yang terjadi ketika Anda membuang batu ke dalam sebuah kolam. Normalnya riak akan menjauhi batu. Namun apa yang terjadi dengan gelombang cahaya (ketika menabrak jubah tak terlihat) adalah seperti riak yang pergi ke arah batu," terangnya.

Dr Powell bergabung dengan para profesor ANU lainnya yakni Ilya Shadrivov dan Yuri Kivshar serta mahasiswa bernama Steven Morrison untuk mengerjakan proyek tersebut. Mereka menyatakan, sulit untuk memprediksi kapan jubah itu bisa terealisasi. "Saat ini rasanya sangat spekulatif,"Β  pungkasnya. (nvt/nvt)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads