Sebelum masuk, Andi pemandu setia kami, memberikan pengarahan. Katanya, di dalam sana terdapat 21 lorong yang terhubung satu dan lainnya. Rasa penasaran saya dan rombongan dari Semen Gresik semakin besar.
Kami akhirnya dipersilakan memasuki lobang. Tangga yang agak curam membuat kami harus berpegangan pada besi panjang yang terpancang sepanjang terowongan. Sebelum tiba di lorong pertama, kami harus menuruni anak tangga sepanjang kurang lebih 250 meter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lorong tempat penyimpanan amunisi berjumlah 6 buah. Sedangkan sisanya yang 15 masih berada di dalam," ujar Andi penuh semangat saat memberikan panduan pada kami.
Setelah puas melihat 6 lorong penyimpanan amunisi, kami kembali melanjutkan perjalanan ke dalam lorong yang memiliki lebar 2 meter dengan tinggi lorong jugasekitar 2 meter. Meski lorong ini dalam dan panjang, namun sirkulasi udara yang ada di dalam lubang sangat baik.
Tidak berapa lama melangkah, kami pun tiba di lorong-lorong selanjutnya yang berjumlah 15 buah. Lorong ini fungsi berbeda-beda pula.
Ada lorong yang difungsikan sebagai tempat makan, lorong tempat duduk, lorong tempat tidur tentara Jepang, ruang sidang, ruang interogasi bagi penduduk Indonesia yang diculik, lorong pelarian, serta ruang dapur yang fungsi sebenarnya digunakan tempat pembantaian para romusa yang membangkang bekerja.
Menurut penurutan Andi, lubang pembantaian ini menjadi misteri tersendiri karena berapa banyak romusa yang telah dibantai tentara Jepang hingga kini masih belum diketahui.
Dari pengamatan detikcom, di dalam lorong pembantaian ini terdapat dua lubang dengan diameter kurang dari 1 meter. Lubang pertama yang berada di atas, dikhususkan untuk mengintai penduduk Indonesia yang akan mereka culik dan dirampas hasil pertaniannya.
Sedangkan lubang berukuran sama yang berada di pojok bawah lorong difungsikan sebagai tempat pembuangan mayat para romusa. Mayat-mayat para romusa yang menolak bekerja, dibantai oleh tentara Jepang di tempat ini dan mayatnya kemudian dibuang lewat lubang ini. Lubang pembuangan mayat ini tepat berada di penggir jurang dan mayat langsung jatuh ke aliran Sungai Ngarai Shianok. Sehingga mayat-mayat para romusa tidak pernah ditemukan karena hanyut terbawa aliran sungai.
(bdh/ana)











































