Cak Imin Digusur, Wacana Kocok Ulang Pimpinan DPR Muncul Lagi

Cak Imin Digusur, Wacana Kocok Ulang Pimpinan DPR Muncul Lagi

- detikNews
Sabtu, 29 Mar 2008 11:14 WIB
Jakarta - Penggusuran Muhaimin Iskandar dari ketua Umum DPP PKB memunculkan kembali wacana kocok ulang pimpinan DPR. Saat ini, satu kursi wakil ketua DPR yang ditinggalkan Zaenal Maarif, masih kosong. Sementara Muhaimin Iskandar yang juga wakil ketua DPR sedang dipermasalahkan partainya. Agar pimpinan DPR berkualitas, sebaiknya formasi pimpinan DPR juga dirombak.

Wacana ini dimunculkan oleh politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahri Hamzah. "Sebetulnya kepemimpinan dewan itu pincang sejak awal, karena sejak dulu tidak ada upaya untuk memeriksa/mengevaluasi secara akurat apakah kinerja DPR sudah bisa dianggap baik dan kontributif bagi kemajuan bangsa dalam 3 aspek tugas utamanya (legislasi, anggaran dan kontrol)," kata Fahri kepada detikcom, Sabtu (29/3/2008).

Menurut Fahri, setelah kubu Agung Laksono (Koalisi Kebangsaan) terpilih pada tahun 2004 sebagai pimpinan DPR, maka semua berjalan monoton dan tanpa gebrakan. Legislasi lebih banyak hanya men-stempel usulan pemerintah, demikian pula anggaran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Semua usulan pemerintah nyaris tanpa revisi. Akhirnya apa manfaat dewan? Paling dewan hanya sibuk keritik pemerintah tanpa konstruksi dan data yang jelas," tegas politisi muda ini.

Pidato-pidato pimpinan dewan selama ini, kata Fahri, jelas menunjukkan bahwa kredibilitas pimpinan memang payah. Jadi wajar pula kalau akhirnya semua menghadapi masalah pribadi. "Ada yang sakit, ada yang di-PAW (pergantian antarwaktu), dipecat, dan lain-lain," ujar dia.

Tidak ada kata terlambat untuk merombak pimpinan DPR, sehingga muncul kepemimpinan yang berwibawa. "Masih ada waktu setahun. Saya kira kepemimpinan dewan perlu dirombak oleh darah segar yang bisa mempengahruhi kinerja setahun ini. Empat tahun sudah citra DPR luluh lantak oleh opini negatif di media. Hampir-hampir publik sudah apriori dan tidak percaya lagi. Maka, kepemimpinan baru harusnya bisa mengubah citra itu secepatnya," kata mantan aktivis 1998 ini.
(asy/gah)


Berita Terkait