Wacana ini dimunculkan oleh politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahri Hamzah. "Sebetulnya kepemimpinan dewan itu pincang sejak awal, karena sejak dulu tidak ada upaya untuk memeriksa/mengevaluasi secara akurat apakah kinerja DPR sudah bisa dianggap baik dan kontributif bagi kemajuan bangsa dalam 3 aspek tugas utamanya (legislasi, anggaran dan kontrol)," kata Fahri kepada detikcom, Sabtu (29/3/2008).
Menurut Fahri, setelah kubu Agung Laksono (Koalisi Kebangsaan) terpilih pada tahun 2004 sebagai pimpinan DPR, maka semua berjalan monoton dan tanpa gebrakan. Legislasi lebih banyak hanya men-stempel usulan pemerintah, demikian pula anggaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pidato-pidato pimpinan dewan selama ini, kata Fahri, jelas menunjukkan bahwa kredibilitas pimpinan memang payah. Jadi wajar pula kalau akhirnya semua menghadapi masalah pribadi. "Ada yang sakit, ada yang di-PAW (pergantian antarwaktu), dipecat, dan lain-lain," ujar dia.
Tidak ada kata terlambat untuk merombak pimpinan DPR, sehingga muncul kepemimpinan yang berwibawa. "Masih ada waktu setahun. Saya kira kepemimpinan dewan perlu dirombak oleh darah segar yang bisa mempengahruhi kinerja setahun ini. Empat tahun sudah citra DPR luluh lantak oleh opini negatif di media. Hampir-hampir publik sudah apriori dan tidak percaya lagi. Maka, kepemimpinan baru harusnya bisa mengubah citra itu secepatnya," kata mantan aktivis 1998 ini.
(asy/gah)










































