"Tidak ada yang lebih tahu selain Gus Dur sendiri. Pertama, PKB ini kan partai yang semakin lama semakin mempersonal, mempribadi, segalanya semakin ditentukan oleh figur Gus Dur," kata peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI) Isra Ramli.
Hal itu dia sampaikan dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (28/3/2008).
-
Dia menjelaskan, partai yang semakin terpusat dengan personal tergolong partai yang tradisional. Sementara dalam pemikiran modern, kepemimpinan dalam suatu organisasi tidak sakral. Yaitu, berdasarkan kontrak atau kesepakatan.
"Tapi dalam persepektif Gus Dur, itu sakral. Seperti kiai dgn santri. Kan tidak pernah ada santri memilih kiai," ujar pria yang di memiliki keahlian utama di bidang kajian media dan komunikasi politik ini.
Selanjutnya, kepemimpinan lantas diukur dari otoritas dan ketinggian derajat spiritual. Hal itu tidak bisa diverifikasi secara modern.
Isra menjelaskan, basis pemikiran Gus Dur sebenarnya berasal dari kalangan tradisionalis. Gus Dur pun berpandangan bahwa modernitas itu punya banyak persoalan.
"Sehingga menurut dia, bukan harus selalu diamini," ujarnya.
Penuh Konflik
PKB memang tak bisa lepas dari sejarah Nahdlatul Ulama (NU). Di sana, konflik antarelit terhitung tinggi intensitasnya. Apalagi, NU merupakan suatu komunitas dengan pendukung yang berjumlah sangat besar.
"Tapi karena punya konflik tinggi, akhirnya tidak terwujudkan dalam representasi politik," imbuhnya.
Lantas bagaimana masa depan PKB? "Susah diprediksi. Dari fakta yang sudah kita lihat, inilah satu-satunya partai yang sudah tiga kali memecat ketua umum. Mulai Matori Abdul Jalil, Alwi Shihab, sekarang Muhaimin," jelas Isra.
(fiq/nrl)











































