Gubernur Sumatra Selatan Syahrial Oesman menjadi gerah. Dia pun meminta bupati dan walikota di Sumatera Selatan jangan membuat laporan yang mengada-ada dengan mengatakan tidak ada kasus gizi buruk di wilayah pemerintahannya.
Ditemukannya kasus gizi buruk yang dialami Aldino Bagastra (1,9) anak dari pasangan Jamilah (35) dan Mat Arok (50), warga Desa Arisan Musi, Kecamatan Muara Belida, Kabupaten Muaraenim, dan Muhammad Albagir (3,5) anak dari pasangan Alamsyah (29) dan Maimunnah (20), warga Jalan Slamet Riyadi Lorong Asia RT 01 RW 01 Nomor 59, Kelurahan Kuto Batu, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang, sangat mengejutkan Syahrial Oesman. Lalu, ketika dikabarkan Muhammad Albagir meninggal dunia dua hari lalu, Selasa (24/03/2008), setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit umum Moehammad Husin, Syahrial Oesman tampaknya harus berbicara mengenai fenomena dari kaum miskin ini.
Β
"Saya minta kepada kepala daerah khususnya bupati dan walikota agar jangan lengah dan memberikan laporan yang mengada-ada dengan mengatakan tidak ada kasus gizi buruk di daerahnya, padahal di lapangan telah ditemukan kasus gizi buruk di wilayah mereka," kata Syahrial Oesman di Auditorium Bina Praja Pemerintah Sumsel dalam menghadiri acara yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dua hari lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terhadap sejumlah kasus gizi buruk itu, Syahrial Oesman, kembali meminta Dinas Kesehatan Sumsel untuk mengoptimalkan peranan Puskesmas dan Posyandu. Dan, secara pribadi dia akan memberikan santunan kepada keluarga dan korban gizi buruk.
Sementara Dinas Kesehatan Sumatra Selatan melalui wakil kepada dinasnya, Nadjmah Nasir, kepada pers, mengatakan pihaknya telah menghimbau kepada pemerintahan kabupaten, kecamatan, kelurahan, hingga desa, untuk terus meningkatkan perhatian terhadap persoalan kesehatan. Sedangkan kepada masyarakat, dia meminta untuk aktif mendatangi Puskesmas dan Posyandu akan mendapatkan pelayanan dan pengobatan secara gratis.
Β
Potensi Gizi Buruk
Berdasarkan penulusuran detikcom, sebenarnya potensi gizi buruk di Sumatera Selatan cukup tinggi. Terutama di wilayah perkampungan miskin. Di Palembang, masyarakat di tepian sungai Musi, balita dan anak-anak secara umum tidak begitu sehat. Balita yang seharusnya banyak mengonsumsi makanan bergizi, sejak bayi harus makan dengan nasi putih, ikan asin, kecap, atau mi instan, sebab orangtua mereka yang sehari-hari bekerja sebagai penarik becak atau buruh lepas, tentu sangat kesulitan memenuhi makanan yang sehat buat keluarga,
"Buat sewa bedeng bae kami susah, apalagi makan yang sehat. Untunglah, Tuhan tetap memberikan kesehatan buat anak-anak kami," kata Ujang (37), seorang penarik becak di kawasan Kuto Batu, Palembang.
Sementara di kawasan pesisir Sumatra Selatan, seperti di kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin, kondisi masyarakatnya lebih miris lagi. Hanya mengandalkan sebagai nelayan kecil atau petani kecil, mereka setiap hari harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup. Bagaimana tidak, penghasilan mereka sehari-hari hanya berkisar Rp 5-10 ribu, hasil dari menjual hasil pertanian atau ikan, harus mengeluarkan biaya yang cukup besar buat membeli minyak tanah, gula, dan kebutuhan lainnya. Di Pulau Rimau atau Sungsang, minyak tanah kini dijual seharga Rp 10 ribu per liter, sementara minyak sayur dan gula harganya mencapai Rp 15 ribu per kilogram.
Dengan ditariknya subsidi minyak tanah, kemungkinan besar kehidupan masyarakat di pesisir dan petani rawa-rawa ini kian menjadi susah. Kemiskinan kian mendalam, dan bagi mereka yang tidak mampu mengatasi persoalan, jika menghindari anak-anak mereka mengalami gizi buruk atau tidak berpendidikan, mungkin hanya menjadi penjahat untuk mendapatkan penghasilan yang baik, atau membunuhnya, dan terakhir bunuh diri bersama.
"Dari pada para balon kepala daerah itu menghabiskan uang dengan memasang iklan di media massa bahwa mereka peduli kesehatan dan pendidikan, lebih baik uang miliaran rupiah itu dibagikan buat kami," kata Ujang. (tw/djo)










































