Dalam pertemuan dua negara itu, selain mambahas masalah krusial Kosovo, Menlu Serbia Vuc Jeremic juga menandatangani kesepakatan kerjasama berbagai bidang terkait isu politik, ekonomi, investasi dan budaya.
"Saya berharap kunjungan seperti ini dapat dilanjutkan," tutur Vuc Jeremic.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski ini merupakan kunjungan perdana pejabat Serbia ke Indonesia, Menlu Hasan Wirajuda mengatakan, dalam sejarahnya Indonesia memiliki hubungan erat antara kedua pihak sejak jaman Presiden Soekarno.
"Dulu malah Presiden Yugoslavia (sebelum Serbia) pernah diberi burung Kakatua, dan dilatih untuk berbicara good morning Mr Tito," ujarnya.
Sementara, terkait permintaan dunia agar Serbia mendukung kemerdekaan Kosovo tampaknya tidak membuat Menlu Serbia Vuk Jeremic bergeming. Dia justru mempertanyakan sikap beberapa negara Uni Eropa yang meminta Serbia mengakui kemerdekaan Kosovo.
"Kami mengharapkan tidak ada permintaan seperti itu karena tidak semua negara anggota UE mendukung deklarasi kemerdekaan Kosovo secara legal dan legitimate," kata Vuk Jeremic.
"Saya tidak mengerti bila UE meminta anggotanya untuk mengakui kemerdekaan Kosovo. UE menjalankan berdasarkan konsensus dan tidak ada konsensus yang melibatkan Kosovo," terangnya.
Kosovo yang resmi melepaskan diri dari Serbia pada Minggu 17 Maret 2008, kata Vuk, murni karena permasalahan etnis politik. Permasalahan agama yang sering disebut-sebut sebagai penyebab, bukanlah isu utama.
Vuk menuturkan, meskipun penduduk Serbia mayoritas beragama Kristen dan Kosovo dengan mayoritas Muslim, agama bukanlah penyebab mengapa Kosovo akhirnya memutuskan untuk mendeklarasikan kemerdekaannya. Dia juga menegaskan Kosovo bukanlah negara Islam.
"Serbia sangat menghormati hak warga negara tanpa memandang agama. Itulah seharusnya negara demokrasi," imbuh Menlu berwajah tampan berusia 33 tahun ini. (ptr/mar)











































