Menggebrak Mobil Jadi Kebiasaan

Moge Masuk Tol (3)

Menggebrak Mobil Jadi Kebiasaan

- detikNews
Kamis, 27 Mar 2008 13:02 WIB
Jakarta - Pagi hari di penghujung 2002, adalah hari yang menyebalkan bagi Arie Mega, warga Jakarta Selatan. Ketika mobil yang dikendarainya sedang terjebak macet di perempatan pasar Parung, Bogor, ia dihardik oleh gerombolan pengendara Harley Davidson, yang ada di belakangnya.

"Kap mobil saya juga dipukul. Bahkan salah satu pengendara sempat meludahi saya, tapi untungnya hanya mengenai kaca mobil," kisah Arie kepada detikcom.

Ia menuturkan, kejadian itu terjadi dua hari setelah Hari Raya Idul  Fitri 1923 H. Tepat pukul 10.00 WIB, Arie bersama temannya sedang mengedarai Kijang Komando dari Jakarta menuju rumah familinya di perumahan Bilabong, Bogor. Tapi saat mobilnya melintasi perempatan pasar Parung, ia terjebak macet akibat banyaknya pejalan kaki yang menyebrang dan gerobak yang berjajar di bahu jalan.

Di tengah kemacetan itu, tiba-tiba raungan sirine dan deru mesin rombongan motor gede (moge) terdengar dari arah belakang mobilnya. Salah satu di antarannya melesat maju untuk membuka jalan bagi rombongan  yang jumlahnya belasan motor tersebut.

Bikers Harley itu kemudian memintanya untuk minggir. Sebab kebetulan mobil yang dikendarai Arie berada di barisan paling depan antrian kemacetan. Tapi permintaan itu tidak bisa dilakukan Arie. "Mobil saya tidak bisa lagi bergerak. Karena di sebelah kiri saya ada gerobak," jelas perempuan yang saat ini bekerja sebagai reporter Mainici Shimbun.

Karena tidak kunjung bergerak, pengendara moge itu memukul kap mobil sambil memaki Arie dengan kata-kata kasar. "Saya dan teman saya dibilang perek lah," ujar Arie. Perkataan itu tentu membuatnya berang. Ia pun berniat ingin melawan. Tapi temannya berhasil meredakan emosinya sehingga ia urung keluar dari mobil.

Setelah rombongan itu berlalu ia hanya bisa diam terpaku di depan setir semenitan lamanya, untuk meredakan emosinya. Lelaki tua pemilik gerobak yang bertengger di samping mobilnya pun ikut menenangkannya. "Sudah Neng, kita yang waras ngalah saja," begitu kata Arie menirukan ucapan lelaki pemilik gerobak tersebut saat itu.

Meski kejadian tersebut sudah berlangsung lama, kenangan buruk itu tetap selalu diingatnya. Kekesalan terhadap kelompok moge masih melekat hingga sekarang.

Arogansi rombongan moge di jalanan juga sempat dialami oleh Sarie Febriane, 5 Februari 2006. Ibu beranak satu yang tinggal di Cinere, Depok, itu bahkan sempat melawan saat dihardik pengendara moge yang sedang berkonvoi di Jalan Cinere Raya. Namun ia enggan mengulas kembali peristiwa itu. "Jangan saya deh Mas, korban yang lain saja," kata Sarie saat dihubungi detikcom.

Dalam emailnya yang ditulis Sarie beberapa hari setelah kejadian, Sarie menceritakan pengalaman buruknya saat berhadapan dengan rombongan moge. Seperti biasa, Minggu sore itu Jalan Cinere Raya yang rusak macet. Ibu satu anak itu tengah mengendarai mobilnya dari arah Jakarta ke arah Sawangan. Tiba di dekat Polsek Cinere, lewatlah rombongan moge  yang didahului bunyi sirine melengking.

Melihat rombongan itu, Sarie memperlambat laju mobil karena takut tersenggol. Ibu beranak satu ini teringat kisah seorang bapak yang dipukuli oleh rombongan moge karena dianggap menghalang-halangi laju rombongan moge. Benar saja, rombongan moge itu mulai menyalip dan memenuhi ruang di sisi kanan mobil Sarie.

Para pengendara moge kemudian menyuruh Sarie lebih minggir ke kiri, padahal sisi jalan sebelah kiri juga sudah mentok. "Jelas saya nggak  mau memaksakan diri lebih mepet ke kiri, wong saya bergerak di lajur yang semestinya!" kata Sarie dalam emailnya.

Karena Sarie tidak mau mengalah, rombongan moge itu meraung-raungkan gas motornya. Sarie membalas dengan mengedip-ngedipkan lampu jauh mobilnya kepada motor di depannya. Mungkin merasa ditantang, seorang pengendara moge menggebrak kap mobil Sarie.

Suasana pun menjadi panas. Sarie dan pengendara Harley sama-sama emosi. Bagi Sarie sikap yang ditunjukan pengendara moge itu sangat arogan. Sebab sudah tahu mereka salah tapi masih menyalahkan orang lain. Bahkan lampu spion mobil Sarie dipukul hingga masuk ke bagian dalam. Nyaris saja Sarie turun dari mobil untuk membalas perlakuan bikers Harley tersebut. Untunglah ia teringat putrinya yang berusia 20 bulan sehingga ia bisa sedikit tenang.

Buntut kejadian itu, ia pun  mulai kampanye melawan kawanan moge yang arogan melalui milis. Emailnya kemudian menyebar dari milis ke milis dan menjadi perbincangan seru waktu itu.

Apakah arogansi kawanan moge berakhir sampai di situ? Ternyata tidak. Seakan menjadi warga kelas wahid di Indonesia, mereka sering seenaknya bila berada di jalan raya. Bahkan tidak segan-segan memacu moge di jalan tol. Perilaku mereka banyak dikeluhkan para pengguna jalan tol, termasuk petugas Jasa Marga.

Komunitas ini belakangan menjadi sorotan, ketika beberapa anggota penghobi motor pabrikan Amerika tersebut nyelonong masuk ke jalan tol, 22 Maret silam. "Mereka harus ditindak tegas biar kapok," tegas Arie Mega. Ia pun berharap para pengguna jalan membuat petisi untuk menprotes ulah pengendara moge yang hobi masuk jalan tol dan mempublikasikannya. (ddg/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads