"Di Indonesia kita identifikasi adanya perubahan. Dari sudut molekular kalau kita teliti memang ada sedikit perubahan dari aslinya. Hingga itu mengarah kepada kemungkinan adanya resisten," kata Deputi Bidang Pengembangan Sistem Iptek Nasional Kementerian Negara Riset dan Teknologi Amin Soebandrio.
Hal itu disampaikan dia dalam pertemuan tahunan soal flu burung ke-enam di Hotel Wastin Nusa Dua, Badung, Bali, Kamis (27/3/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk itu harus kita cegah. Penggunaan tamiflu harus kita kontrol," ujarnya.
Amin mengatakan, ditemukan juga beberapa perubahan genetik ke mutasi. Dari uji coba obatnya belum ada bukti resisten. Tetapi dilihat dari rangkaian genetiknya virus H5N1 sudah mengarah pada kemungkinan terjadinya resistennya. (ziz/nvt)











































