"Kalau tidak stabil kepemimimpinannya, PKB bisa jadi partai Gurem. Suaranya saya perkirakan bisa di bawah 6% pada Pemilu 2009," kata AS Hikam kepada detikcom, Kamis (27/3/2008).
Menurut dia, PKB seharusnya fokus pada Pemilu 2009. "Partai saingannya sekarang solid seperti PPP dan PKS dari kalangan Islam. PDIP dan Golkar dari kalangan nasionalis. Belum lagi ada Hanura dan PKNU. PKB akan berat bersaing jika tidak bisa konsolidasi partai," ujar Hikam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hikam mengatakan, ada beberapa faktor di balik pemecatan Muhaimin. Menurut dia, Muhaimin dinilai tidak mampu melakukan konsolidasi partai. Contohnya dalam kasus muktamar PKB di Semarang yang akhirnya melahirkan PKNU.
"Itu seharusnya menjadi tanggung jawab Muhaimin supaya tidak terjadi," kata Hikam yang saat ini sibuk mengajar ini.
Selain itu, kepemimpinan Muhaimin dan Yenni Wahid yang pecah. Belum lagi pemecatan pengurus di daerah. "Jadi PKB itu tidak solid sebab konflik selalu diselesaikan dengan pemecatan. Konstituen di bawah pun bisa ikut pecah dan muncul perkubuan," tutur Hikam yang belum berencana masuk parpol lagi ini.
Yenni
Dalam kesempatan itu, Hikam mengusulkan agar PKB menonaktifkan Muhaimin sambil menunggu Muktamar Luar Biasa (MLB).
"Terus terang Yenni itu nggak punya kapasitas. Pengalaman di grassroot dan pengalaman di kiai NU belum sampai. Sebaiknya diserahkan kepada orang nomor 2 setelah Muhaimin, yakni Ali Masykur Musa. Ini tidak kontroversial. Lagipula dia loyal dan mampu menjadi manajer parpol yang baik," papar pria yang juga pengamat LIPI ini.
Lanjut dia, Ketua FKB DPR Effendy Choirie juga bisa dimanfaatkan secara maksimal guna memobilisasi partai. (aan/nrl)











































