Kejadian ini bermula ketika pada September 2007 ada pemilihan wakil kepsek di sekolah itu. 2 Calon maju untuk menduduki kursi wakil Kepsek, mereka adalah Ida (60) dan Nuraini (51).
Proses pemilihan berjalan dengan sengit. Bahkan isu-isu pembunuhan karakter bergulir untuk menjatuhkan calon lainnya. Contohnya saja Nuraini yang dikabarkan selingkuh dengan kepala sekolah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mendapat aduan dari istri tercinta, BS naik pitam. Dia mendatangi sekolah itu pada Oktober 2007.
"Waktu itu BS mendatangi saya di ruang guru. Dia langsung mengeluarkan pistolnya dengan menepuk-nepukkan popor pistol ke pundak saya, serta berujar gue bunuh lu," ujar Ida usai melapor di SPK Polda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jakarta Selatan, pada wartawan, Rabu (26/3/2008).
Akibat teror itu, Ida mengundurkan diri dari wakil kepsek pada Desember 2007.
Selain Ida, Shinta yang juga guru di sekolah yang sama mengalami hal yang serupa. Dia diteror setelah mendapat aduan dari Nuraini.
"Saya difitnah oleh Nuraini sehingga suaminya marah dan mendatangi saya ke sekolah dengan mengintervensi dengan pistolnya," ujar Shinta.
Tampaknya Ida dan Shinta harus pulang tanpa hasil. Laporan mereka ditolak Polda Metro Jaya dengan alasan identitas pelaku tidak jelas dan sumir, baik dari satuan, pangkat atau pun jabatan di Mabes Polri. Mereka pun masih pikir-pikir untuk mengajukannya lagi.
Sementara saat dikonfirmasi atas penolakan itu, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Abu Bakar mengatakan harusnya laporan itu diterima.
"Jabatannya kan jelas yaitu di bagian logistik. Sedangkan identitas lain yaitu mempunyai istri seorang guru, harusnya tetap bisa diproses atau laporan diterima," ujar Abu Bakar melalui telepon. (mly/nrl)











































