Jurus Rp 10.000 Wartawan RI Hadapi Preman Senegal

Jurus Rp 10.000 Wartawan RI Hadapi Preman Senegal

- detikNews
Rabu, 26 Mar 2008 08:37 WIB
Jakarta - Kecerdikan dan betapa panjang akal orang Indonesia rasanya tidak perlu diragukan lagi. Wartawan senior M. Anis dan Haksoro Putro membuktikan kedigdayaan mereka dalam hal tersebut di Senegal, Afrika.
 
Peristiwa itu terjadi sekitar dua pekan lalu, ketika wartawan dari situs www.presidensby.info dan harian Media Indonesia itu bertugas meliput KTT XI OKI di Dakar. Usai meliput penutupan kegiatan internasional yang dihadiri oleh Presiden SBY tersebut, keduanya memutuskan berbelanja cindera mata. Lokasi yang dipilih adalah toko-toko dan kaki lima di sekitar pelabuhan Dakar.
 
Karena belum mempunyai mata uang lokal, keduanya pun mencari tempat penukaran uang terlebih dahulu. Ternyata bank terdekat pelabuhan sudah tutup. Maklum saja saat itu sudah hampir pukul 20.00 waktu setempat.
 
Setelah bertanya kiri-kanan, duo wartawan ini menemukan sebuah tempat penukaran uang gelap yang dikelola oleh seorang haji saudagar setempat. Mereka pun menabahkan hati menuju rumah Pak Haji yang berada di dalam lorong-lorong sempit dan remang (karena sudah malam) khas perkampungan padat sekitar pelabuhan.
 
Singkat kata, transaksi tukar menukar uang senilai US$ 100 berjalan aman dan lancar. Tapi yang jadi masalah, sejak meninggalkan tempat penukaran uang, keduanya merasa dibuntuti oleh dua orang ABG.
 
Berusaha cuek, Cak Anis dan Pak Haksoro tetap teguh pada agenda utama mereka berbelanja suvenir khas Senegal sampai puas. Rute yang mereka pilih adalah sepanjang jalan menuju pelabuhan.
 
Hingga sampailah di sebuah ruas jalan minim penerangan. Dua ABG yang sejak tadi membuntuti langsung mendekat dan salah satu di antaranya menawarkan kaos serta kain bercorak khas Afrika.
 
Cak Anis menolak tawaran itu. Selain karena segepok uang lokal sudah tandas, harga yang ditawarkan untuk kaos dan kain yang lebih tepat disebut 'saringan tahu' itu juga terlalu mahal.
 
Mendadak ABG satunya menjulurkan tangannya ke saku jas Pak Haksoro. Spontan yang bersangkutan berkelit dan menepisnya sambil menghardik.
 
Hardikan keras Pak Haksoro ini menarik perhatian sekelompok pemuda yang nongkrong di ujung jalan. Mereka bergegas menghampiri lokasi kejadian, dan setelah mengetahui percobaan pencopetan itu, mereka lalu mencengkram dan menempeleng para ABG nekat itu.
 
"Ada yang hilang, Pak?" tanya seorang pemuda.
 
"Nggak ada. Dia baru berusaha nyopet aja kok," kata Pak Haksoro seraya memeriksa kantong jas-nya yang hanya berisi sebatang pena.
 
Demi alasan keamanan, pemuda yang belakangan diketahui sebagai preman setempat itu menawarkan diri mengawal Cak Anis dan Pak Haksoro sampai ke pintu pelabuhan. Tentu saja tawaran simpatik itu mendapatkan sambutan positif.
 
Tak berapa lama sampailah rombongan kecil itu di pintu pelabuhan. Muncul masalah baru yang sebenarnya sudah diperkirakan. Si pemuda yang postur tubuhnya seperti pemain basket NBA itu mendesak agar diberikan tip atas jasa pengawalan yang ia berikan.

"No. No. More. Give me more!" tolak si pemuda atas pemberian selembar US$ 10 yang disodorkan Cak Anis.
 
"Oke. I'll give you ten thousands than," balas Cak Anis sambil melambaikan selembar uang sepuluh ribu rupiah.
 
"Deal. Thank a lot Sir," kata si pemuda dengan wajah sumringah.
 
Setelah selembar uang kertas warna merah itu berpindah tangan, Cak Anis dan Pak Haksoro langsung ngibrit menuju kapal yang dijaga tentara Senegal. Hal pertama yang mereka lakukan begitu sampai di tempat aman adalah tertawa terpingkal-pingkal.

"Pasti preman itu pikir sepuluh ribu rupiah lebih besar dari sepuluh dollar, karena nol-nya lebih banyak. Huahahaha....," seru Pak Haksoro berlinang air mata kegelian. (lh/asy)


Berita Terkait