"Saat ini tidak sedikit para peneliti yang berpikir tak ilmiah, karena terjebak kepada kepentingan tertentu. Hal itu dapat mengganggu pencarian atau penegakan kebenaran itu sendiri," kata dia di Kampus Undip Semarang, Selasa (25/3/2008).
Dijelaskan dia, dalam menganalisis sesuatu, seorang peneliti harus berdasarkan data konkret, sehingga kesimpulannya pun valid. Menurut dia, berpikir ilmiah membutuhkan hati nurani, kejujuran, dan menjauhi kepentingan pribadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam mencari kebenaran, Menkes mengaku, dirinya selalu berpatokan kepada kerangka berpikir ilmiah, yakni berpikir merdeka, bisa dipertanggungjawabkan, sistematis, logis, demokratis, dan objektif.
Menkes berpesan jika ada kerja sama dengan pihak asing, sebaiknya pihak kampus memikirkan masak-masak terlebih dahulu tentang kesetaraan, relevansi kerja sama, dan keuntungan yang diperoleh dalam kerja sama.
"Bangsa ini sangat mengharapkan lahirnya para pemikir dari kampus untuk membangun negara ini agar diperhitungkan bangsa lain di dunia internasional, bukan bangsa terjajah pola pikir maupun tata nilainya," jelas menteri yang dinilai cukup kritis ini.
Acara bedah buku itu lumayan ramai. Selain Menkes, hadir juga sebagai pembahas Asisten Kesra Pemprov Jateng S. Budi Prayitno. Budi mengatakan, sampai Maret 2008, terdapat 10 kasus flu burung di Jateng. (try/asy)











































