Prefeasibility Study Proyek Deep Tunnel Harus Dilaksanakan

Prefeasibility Study Proyek Deep Tunnel Harus Dilaksanakan

- detikNews
Selasa, 25 Mar 2008 16:40 WIB
Jakarta - Prefeasibility study proyek multi purpose deep tunnel (MPDT) harus segera dilaksanakan. Itulah permintaan Wapres Jusuf Kalla. Apalagi Jerman dan Belanda sudah menyiapkan dana US$ 1,8 miliar.

"Tadi Pak Wapres minta silakan dimulai. Karena you biaya sendiri studinya bukan pakai rupiah kita," kata Dirjen Sumber Daya Air Departemen Pekerjaan Umum Iwan Nursyiwan.

Hal tersebut disampaikan Iwan usai rapat dengan Wapres Jusuf Kalla di Kantor Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (25/3/2008). Dalam rapat itu hadir Menteri PU Djoko Kirmanto, Wagub DKI Jakarta Prijanto, dan perwakilan dari Bank Belanda dan Jerman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Iwan menjelaskan proyek MPDT tersebut memiliki sejumlah fungsi untuk jalan tol, pencegahan banjir, dan pengolahan limbah. "Jadi ini ada bantuan dari pemerintah Jerman dan Belanda untuk mendanai feasibility study-nya. Dan itu grant (hibah)," jelasnya.

Proyek yang bernilai US$ 1,8 miliar ini rencananya akan dibangun mulai Cawang - Manggarai - Setiabudi hingga ke laut. Proyek akan dibangun sepanjang 22 km dengan kedalaman 40 meter.

"Ini yang akan mereka (Jerman dan Belanda) kaji," ujarnya.

Untuk itu, lanjut Iwan, Menteri PU diminta untuk segera membuat surat keputusan untuk memebentuk tim pengawas. "Tim supervisi ini akan berasal dari PU, DKI, dan pihak terkait," jelasnya.

Direktur PT OCS Indonesia, Shechan Shahab, anak perusahaan PT Amagedon menambahkan, proyek ini akan dimulai pada akhir 2009.

"Biaya pra studi kelayakan akan menghabiskan dana sebesar US$ 400 ribu, sedangkan untuk studi kelayakan akan menelan biaya sebanyak US$ 2 juta," ungkap Shechan yang perusahaannya juga merangkap sebagai master konsorsium investor proyek terowongan itu.

Shechan menjelaskan, pembangunan proyek ini akan menggunakan teknologi dari Jerman berupa alat-alat berat serta dari Belanda berupa teknik membuat dam dan teknologi pengendalian banjir.
(ary/nvt)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads