Muka Lama Disarankan Tidak Calonkan Diri di Pilpres 2009

Muka Lama Disarankan Tidak Calonkan Diri di Pilpres 2009

- detikNews
Selasa, 25 Mar 2008 14:10 WIB
Jakarta - Tidak hanya duet SBY-JK, Megawati Soekarnoputri, Amien Rais, Gus Dur, Wiranto dan Akbar Tandjung juga diharapkan tidak mencalonkan diri lagi di Pilpres 2009.

Demikian hasil survei Lembaga Survei Nasional (LSN) yang disampaikan Direktur LSN Umar S Bakry dalam jumpa di Hotel Sofyan, Jl Cut Meutia, Menteng,  
Jakarta Pusat, Selasa (25/3/2008).

Survei yang dilakukan di 33 provinsi diikuti oleh 2.178 responden pada Januari-Pebruari 2008.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Survei menunjukkan 44,9% responden menghendaki tokoh nasional yang pernah maju di Pilpres 2004 tidak lagi mencalonkan diri. 37,8%  Responden tidak setuju dengan pembatasan tersebut, sedangkan 17,3% mengaku tidak tahu.

"Ini artinya bukan hanya SBY-JK yang diharapkan publik tidak mencalonkan lagi, tapi juga tokoh senior lainnya, seperti Megawati Soekarnoputri, Amien Rais, Gus Dur, Wiranto dan Akbar Tandjung," kata Umar.

Umar menyatakan, apabila Pilpres 2009 juga diikuti siapa  saja termasuk alumni kandidat 2004, maka Sri Sultan HB X, Prabowo dan Sutiyoso ternyata menjadi tokoh yang sangat kuat untuk nominasi calon wakil presiden.

"Dari 89 pasangan capres dan cawapres yang ditawarkan ke publik, Sri  Sultan, Prabowo dan Sutiyoso masuk dalam 10 besar pasangan capres dan cawapres favorit publik," ujarnya.

Latar Belakang TNI

Kesepuluh besar pasangan itu adalah SBY-Sultan (50%), Mega-Wiranto (46,3%), SBY-Wiranto (45,7%), Mega-Sultan (45,6%), SBY-JK (43,8%), Wiranto-Sultan (42,1%) Mega-Prabowo (41,9%), SBY-Sutiyoso (41,1%), SBY-Hidayat (40,5%), SBY-Prabowo (39,9%).

Survei menunjukkan kriteria ideal bagi capres yang dikehendaki publik, yaitu berlatar belakang TNI, pendidikan S1, berasal dari suku Jawa, berumur tidak lebih dari 60 tahun, tegas dalam ambil keputusan dan tokoh yang merakyat.

"Dari kriteria yang ada itu, menurut publik, Prabowo Subianto satu-satunya tokoh yang memenuhi kriteria," kata Umar.

Umar menilai ada inkonsistensi publik terhadap pilihannya. Misalnya, ketika masyarakat sudah tidak suka dengan SBY-JK, namun masih memilihnya. Hal ini karena belum ada tokoh alternatif baru dan muda yang muncul.

"Ini yang kami terus dorong untuk melakukan survei sampai menemukan tokoh alternatif yang benar-benar diharapkan masyarakat," ujarnya. (zal/aan)


Berita Terkait