"Saat masih di udara, pesawat masih utuh (tidak meledak). Nah sewaktu menabrak laut, pecah karena kecepatan amat tinggi. Energi kinetiknya diperkirakan 10 kali dari kecepatan mendarat biasa," ujar investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Mardjono Siswo Suwarno.
Hal tersebut disampaikan Mardjono dalam jumpa pers di Gedung Departemen Perhubungan (Dephub), Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (25/3/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Potongan terbesar pesawat hanya sepanjang 2 meter," ujarnya.
Sementara Ketua KNKT Tatang Kurniadi mengelak menjelaskan ada atau tidaknya human error dalam kecelakaan tersebut, karena bukan bagian dari tugas KNKT.
"Human error ada dalam istilah akademik. Namun dalam investigasi tidak ada human error. Kita tidak akan blame orang atau organisasi," ujarnya. (nwk/nrl)










































