Hal tersebut disampaikan Siti Fadilah dalam bedah buku yang ditulisnya itu di Fakultas Kedokteran UNS, Senin (24/3/2008). Perempuan kelahiran Solo tersebut mengatakan apa yang ditulisnya bukan wacana maupun provokasi, melainkan catatan yang dibuatnya dalam menangani wabah flu burung.
"Ada kapitalisasi yang harus kita lawan. Contohnya kita yang punya kasus flu burung, tapi ketika kita mencari tamiflu, semua mengatakan bahwa stoknya sudah habis dibeli negara-negara adidaya," papar Siti Fadilah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia lalu menyontohkan sebuah konspirasi negara-negara besar di bidang kesehatan. Indonesia, dinyatakan bebas cacar pada tahun 1974. Setelah seluruh dunia dinyatakan bebas cacar pada tahun 1980, WHO meminta agar semua lab dan sample virus cacar dimusnahkan.
Namun pada tahun 2005, semua negara diminta membeli vaksin cacar seharga Rp 600 miliar dengan alasan Irak telah mengembangkan senjata biologi berupa penyakit cacar. Sebagai Menkes dia menolak, apalagi hingga saat ini tidak juga ditemukan bukti bahwa Irak mengembangkan senjata biologi cacar.
"Kenapa dulu lab kita dimusnahkan dan setelah itu kita dipaksa membeli vaksin yang dikembangkan dari virus tersebut. Saya jelas menolak untuk membeli vaksin semahal itu. Lalu saya ditawari membeli dengan dana utangan dari mereka dengan bunga 6%. Saya tetap tidak mau," lanjutnya.
Tidak Ingin Jadi Menteri
Dalam acara bedah buku tersebut, Siti Fadilah mengatakan sebagai peneliti akan terbuka tentang apa yang diketahuinya meskipun saat ini dia menduduki jabatan penting. Sejak awal, kata Siti, dirinya tidak berkeinginan jadi menteri. Apalagi dia juga bukan orang yang bergabung pada partai tertentu untuk menduduki jabatan politis tersebut.
"Saya tidak minta jadi menteri kok. Tiga kali saya ditawari menjadi menteri selalu saya tolak. Saya baru menerima ketika saya ditemuai Pak Syafii Maarif (Ketua PP Muhammadiyah saat itu -red). Setelah mendengar alasan-alasan dari Pak Syafii, saya baru bisa menerima tawaran itu," ujar menteri yang merupakan representasi dari Muhammadiyah tersebut.
(mbr/djo)










































