Terima Tamu Bayar Rp 150 Ribu/jam

Gaya Artalyta di Penjara (2)

Terima Tamu Bayar Rp 150 Ribu/jam

- detikNews
Senin, 24 Mar 2008 11:43 WIB
Jakarta - Wajah Artalyta Suryani alias Ayin terlihat serius saat berbincang dengan lawan bicaranya melalui telepon genggamnya. Sesekali Ayin yang saat itu mengenakan baju putih yang dipadu celana panjang hitam, mengangguk-angguk tanda menyetujui apa yang dikatakan lawan bicaranya di telepon itu.

Selama di dalam penjara, Ayin memang sering melakukan hubungan komunikasi kepada keluarga, pengacara atau koleganya. Padahal sehari setelah ia masuk sel, petugas telah menyiapkan jammer, alat yang bisa mengacaukan sinyal seluler.

Tujuannya supaya Ayin tidak bisa berhubungan langsung dengan kolega atau teman-temannya. Soalnya ia masih dalam pemeriksaan intesnsif Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), karena diduga telah menyuap jaksa Urip Tri Gunawan.

Alat pengacau sinyal handphone ini berbentuk segi empat yang dilengkapi tiga antena. Radius alat ini sejauh 20 meter. Perangkat ini dipasang KPK 5 Maret lalu, sehari setelah Ayin dimasukan ke rutan tersebut.

"Anehnya selama terpasang alat jammer tersebut Ayin tetap bisa melakukan komunikasi. Lalu untuk apa KPK memasang jammer?" tanya sumber detikcom di rutan Pondok Bambu.

Kepala Rutan Pondok Bambu Suharman mengaku tidak tahu menahu soal pemasangan alat tersebut begitupun fasilitas yang didapat Ayin selama di penjara. Alasannya, ujar Suharman, waktu Ayin masuk penjara ia sedang cuti ke Yogyakarta. "Jadi saya tidak mengetahui urusan dalam Rutan saat ini. Yang saya tahu Artalyta merupakan titipan dari KPK," Katanya.

Sedangkan Akbar Hadi, Humas Dirjen Pemasyarakatan menjelaskan, kalau semua fasilitas dan perangkat yang dipasang di Blok A Rutan Pondok Bambu adalah kewenangan KPK. Jadi bila kemudian Ayin masih bisa komunikasi sekalipun ada alat itu pengacau sinyal, itu jurusan KPK bukan pihak rutan.

Akbar juga merasa mahfum jika sejumlah fasilitas mewah untuk ukuran penjara bisa dinikmati Artalyta. Karena di semua penjara kondisinya sama. Para tahanan berduit bisa menikmati layanan lebih di dalam penjara.

"Pemasangan TV memang ada di dalam rutan dengan tujuan untuk menambah informasi bagi para napi yang berada di dalam rutan. Fasilitas di dalam kamar yang didapat oleh Ayin merupakan permintaan dari Ayin sendiri. Tentunya dengan persetujuan dari rutan" imbuh Akbar.

Sekalipun perlakuan Artalyta tergolong istimewa di rutan Pondok Bambu, OC Kaligis, pengacaranya berulangkali mengatakan kalau perlakuan petugas tidak manusiawi terhadap Ayin. Ia juga mengatakan kalau sel yang ditempati Ayin sangat bau dan sumpek. Tapi nyatanya, sel Ayin justru ditempatkan di sel yang paling nyaman di rutan tersebut.

Selama di penjara ia juga sering menerima tamu. Ruang pertemuan khusus pun disediakan untuk menerima tamu Ayin. Tempat kunjungan perempuan yang dijuluki sebagai "Ratu Suap" ini terlihat bersih, berbeda dengan tempat kunjungan para narapidana lainnya yang kotor dan padat.

Salah seorang napi di rutan itu mengatakan, tempat berkunjung untuk Ayin memang dikhususkan untuk para napi yang berduit. Selain Ayin, yang pernah memakai ruangan itu misalnya Titi dan Jean, para penggelap uang BNI serta Lidya Pratiwi, yang tersandung kasus pembunuhan Naek Gonggom Hutagalung, teman dekatnya, tiga tahun silam.

Jadi bukan orang sembarangan yang bisa menggunakan ruang tamu napi tersebut. Soalnya untuk menggunakan tempat itu petugas membandrolnya seharga Rp 150 ribu per jamnya. "Bagi Ayin uang sebesar itu sangat sepele " ujar sumber detikcom yang sudah setahun meringkuk di rutan tersebut. (ron/ddg)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads