Berdasarkan penelusuran detikcom, para pengangguran yang umumnya pemuda 20-an tahun ini, menghadapi Pilkada Walikota Palembang dan Gubernur Sumsel periode 2008-2013, benar-benar menjadi anak emas. Mereka kerap dipakai sebagai "aktor" dalam setiap kegiatan sosialisasi yang dilakukan para kandidat.
Β
"Ya, terkadang kita menjadi wong biasa. Tapi terkadang jadi tukang ojek, sopir angkot, buruh. Ya apa saja sesuai dengan permintaan panitia pelaksana buat momen apa," kata Jon, sebut saja begitu, pemuda yang bertempat tinggal di Kenten, yang mengaku belum pernah bekerja sejak tamat SMA pada 2002 lalu, Senin (24/3/2008).
Setiap kali menghadiri acara sosialisasi atau sosial yang menghadirkan seorang bakal calon kepala daerah, Jon mengaku menerima uang saku sebesar Rp 10.000-Rp 50.000, "Itu di luar makan, minum, dan kaos," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbeda dengan Amir, warga Sekojo. Amir mengaku selalu diajak panitia pelaksana sebagai tukang ojek. "Aku sih memang sering ngojek. Tapi, ya, jarang-jarang," katanya.
Menariknya, kata Amir, panitia pelaksana yang mengajak orangnya selalu sama, "Tapi balonnya selalu beda. Pasaran aku dan kawan-kawan, Rp 25 ribu sekali acara, di luar makan dan minum," tambahnya.
Tidak jarang, para pengangguran ini oleh para balon "dikontrak" sebagai tenaga keamanan. "Gaji kami setiap bulan Rp 750 ribu. Tugasnya selain menjaga kantor tim sukses, juga turut mengamankan setiap kegiatan," kata Supriatna, warga Sei-Batang kepada detikcom.
Meskipun masa kampanye dan pemilihan belum ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU), tapi sejumlah balon walikota Palembang maupun gubernur Sumatera Selatan, telah melakukan sejumlah kegiatan sosialisasi.
Para balon walikota Palembang itu antara lain Eddy Santana Putra, Sarimuda, Muhammad Yansuri, dan Asmawati. Sementara balon gubernur Sumsel antara lain Syahrial Oesman dan Alex Noerdin. Sedangkan balon gubernur lainya yang baru muncul yakni BP Peliung, belum banyak melakukan sosialisasi. (tw/djo)











































