Selanjutnya hanya terdengar langkah dua pasang sepatu yang berhenti tepat di sel bernomor A 14, yang letaknya di sebelah ruang paste. Sosok wanita yang diantar petugas tersebut adalah Artalyta Suryani, alias Ayin, tersangka kasus penyuapan Rp 6 miliar terhadap jaksa Urip Tri Gunawan.
Di Rutan itu, Ayin, panggilan akrab orang dekat Syamsul Nursalim tersebut, ditempatkan di sebuah sel bersama Titi Priswanti dan Jean Loemiwa. Kedua wanita berusia 40 tahunan ini adalah terpidana kasus penggelapan di Bank BNI. Mereka telah diganjar vonis setahun lalu, masing-masing 4 dan 8 tahun.
Titi yang berprofesi sebagai dokter. Sehari-hari ia diperbolehkan membuka praktek dokternya di penjara tersebut. Selain itu, Titi dan Jean juga diserahi tugas menjadi kepala kebersiahan di blok A.
Ayin yang oleh beberapa kalangan dijuluki sang "Ratu Suap" berada di Rutan Pondok Bambu sebagai tahanan titipan KPK. Sel yang ditempati Ayin lokasinya berada tepat di sebelah masjid, dan lapangan bulutangkis.
Blok yang ditempati Ayin memang tergolong sel khusus. Tidak sembarang orang bisa menempati sel yang ada di blok itu. Jumlahn selnya terbatas yakni hanya empat sel. Tapi kondisi relatif lebih nyaman dibanding sel-sel lain yang ada di rutan tersebut. Tak heran bila tersangka atau terdakwa yang ingin ditempatkan di sel tersebut harus merogoh kocek yang cukup dalam.
Untuk bisa ditempatkan di sel A3, A7, A14 dan A16, penghuni diharuskan mengeluarkan uang Rp 5 juta. Itu belum termasuk uang bulanan, seperti listrik, air bersih, iuran kebersihan dan sumbangan. Empat sel yang ada di blok A ukurannya bervariasi. Sel bernomor A3 dan A14 berukuran 4x3 meter. Sedangkan sel A7 dan A16 berukuran 2 x 3 meter.
Sejak Ayin menghuni blok A, 4 maret lalu, di sana langsung dipasang alat mematikan sinyal alat komunikasi. Alat itu berukuran kecil dengan tiga antena di tengahnya. Pemasangan alat tersebut bertujuan memutus komunikasi Ayin dengan kolegannya di luar.
Bukan itu saja, pengamanan di blok tersebut juga ditingkatkan. Petugas dari Brimob Polda Metro Jaya dikerahkan untuk menjaganya. Penjagaan terdiri dari tiga shift selama 24 jam. Masing-masing shift melibatkan dua petugas Brimob.
Pengamanan ekstra yang diberikan terhadap Ayin tentu berdampak pada penghuni sel yang lain. Para penghuni rutan yang ada di sekitar sel Ayin sekarang tidak bisa lagi menggunakan telepon genggam sebab sinyalnya terganggu. Selain itu mereka merasa risih dengan kehadiran anggota Brimob, yang semuanya berjenis kelamin laki-laki.
"Kita semua para warga dari blok A sangat tidak suka dengan kehadiran perempuan tersebut. Komunikasi kita jadi terganggu," kata salah seorang napi di rutan Pondok Bambu kepada detikcom.
Napi perempuan yang merupakan terpidana kasus perampokan dan pembunuhan itu bercerita, di hari pertama Ayin masuk sel, ia terlihat menangis setiap melihat berita di televisi yang memberikan informasi mengenai dirinya. "Beberapa kali terlihat Ayin menghapus airmatanya setelah melihat pemberitaan di TV," cerita terpidana kasus perampokan dan pembunuhan itu.
Sebuah teve berukuran 21 inci memang tersedia di sel Ayin. Sementara perlengkapan lain yang ada di sel Ayin, berupa 1 lemari gantung dengan 7 laci, dan kasur busa. Jeruji sel yang dihuni Ayin juga dilengkapi hamparan gorden warna merah jambu yang berlapis dua.
Untuk kebutuhan sehari-hari, seperti makan, minum dan mandi, Ayin mendatangkan dari luar penjara. Bahkan untuk mandi, Ayin memilih menggunakan air mineral. Semua itu untuk menjaga kecantikan dan kesehatan Ayin selama berada di dalam penjara. "Biar tidak kekurangan gizi, mungkin," pungkas teman serutan Ayin tersebut. (ron/ddg)











































