"Ada peristiwa yang tidak mengenakkan," kata Adnan Buyung saat menggelar konferensi pers setibanya ke Tanah Air di Hotel Transit Bandara Soekarno Hatta, Banten, Sabtu (22/3/2008).
Pengacara senior itu pun berkisah, setibanya di Singapura dirinya bersama Arman (panggilan akrab Abdul Rahman Saleh) langsung sijemput kendaraan khusus. Mereka pun langsung dibawa ke ruang Imigrasi Bandara Changi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setibanya di kantor imigrasi, lanjut pria berambut putih itu, para petugas langsung meminta paspor mereka. "Kami ditanya macam-macam. Ditanya nama, umur, maksud kedatangan, mau ketemu siapa di Singapura, apa urusannya di sini, di mana alamatnya," bebernya.
Usai ditanya para petugas, Adnan Buyung pun lantas balik bertanya kepada para petugas itu. "Saya tanya ini ada apa. Tapi dia tidak mau bilang apa-apa. Dia tetap ngotot meminta nama orang di Singapura yang saya kenal. Karena saya kesal, saya kasih nama mantan Dubes Singapura di Indonesia Edwar Lee. Dia juga nanya nomor teleponnya. Saya bilang tidak tahu," tuturnya.
Karena kesal, Adnan pun langsung menelepon Ali Alatas. "Pak Ali juga marah-marah atas kejadian itu," ujarnya.
Adnan pun melontarkan kekesalannya atas perlakuan selama 2,5 jam itu. Dia merasa para petugas itu tidak sopan yang hanya menginterogasi di luar kantor imigrasi.
"Saya merasa mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan atas tindakan mereka yang tidak sopan. Kalau mereka sopan, tentunya kita diundang masuk ke ruangan ketemu kepala imigrasinya," pungkasnya.
(ary/ary)










































