Penghargaan dengan fellowship internasional senilai US$40.000 itu ditujukan untuk mendukung peneliti perempuan di seluruh dunia pada awal karir ilmiah mereka dan untuk mendanai riset mereka selama dua tahun.
Proposal riset yang membuat Penia memenangi fellowship itu berjudul "Teknologi Bioproses: Konsepsi Prototip Bioreaktor untuk Pengembangan Stem Cells (Sel Punca)". Selanjutnya Penia akan terbang ke Monash University, Australia pada awal 2009 untuk menguji proposal penelitiannya itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia adalah peneliti perempuan Indonesia ketiga yang menerima penghargaan internasional prestisius tersebut, mengikuti Dr. Fenny Dwivany dari ITB (2007) dan Dr. Ines Atmosukarto dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Cibinong (2004), demikian seperti dituturkan Wawan Dewanto dari Monash University, Australia, kepada detikcom kemarin Jumat (21/3/2008).
Wawan, yang juga suami Penia, menambahkan bahwa penetapan para pemenang telah diputuskan di Paris, 5/3/2008 yang lalu.
President Director PT L’Oreal Indonesia Jean-Christophe Letellier menjelaskan, program L’Oreal-Unesco for Women in Science ini menyatukan organisasi antarpemerintah dan perusahaan swasta sebagai mitra.
"Dengan prestasi Dr. Penia Kresnowati kami berharap agar program ini dapat lebih memotivasi peneliti muda perempuan Indonesia untuk memberikan kontribusi bagi kemajuan sains di Indonesia dan terus membawa inovasi-inovasi mereka ke dunia global" ujar Letellier.
Sementara itu Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk Unesco Prof. Dr. H. Arief Rachman, MPd mengaku bangga atas prestasi lainnya dari peneliti perempuan muda Indonesia berbakat tersebut.
"Unesco mendukung inisiatif ini dan terus menekankan pentingnya hadiah-hadiah berupa penghargaan untuk mempublikasikan prestasi ilmiah perempuan seluas mungkin melalui panutan-panutan seperti Dr. Penia Kresnowati," demikian Rachman. (es/es)