"Alat itu mini regional center (MRC) itu baru dipasang akhir tahun 2007, saat ini sebetulnya dalam tahap uji coba. Belum sempat difungsikan secara penuh beberapa bagian pentingnya dicuri maling," ujar Ali Muzain, Kepala Stasiun Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Kepahiang, Bengkulu, ketika dihubungi pers, di Bengkulu, Jumat (21/03/2008).
Pendeteksi yang harganya mahal itu berfungsi strategis untuk mendeteksi getaran gempa yang terjadi di darat, yang disumbangkan Japans Indonesia Seismic Network (Jisnet), lembaga internasional kerja sama dua negara dalam membangun sebuah jaringan kegempaan. Alat ini cukup canggih, stasiun atau jaringan pendeteksi gempa yang ada di Jepang dapat memantaunya.
Bagaiman pencurian terungkap? Menurut Ali, hal itu berawal dari berawal keluhan petugas pemantau gempa di Jepang yang tidak lagi menerima sinyal dari MRC di Bengkulu. Setelah dicek di lapangan, ternyata semua bagian penting peralatan itu sudah hilang dicuri. Lalu, ahli kegempaan dari Jepang datang ke Bengkulu untuk melihat sisa-sisa aksi pencurian tersebut.
Bagian peralatan MRC yang dicuri antara lain berupa antena, kabel tembaga jaringan. Brutalnya lagi, para pencuri juga membongkar pagar pengaman fondasi tower, dan menggergaji besi tower antena yang tingginya sekitar 18 meter. Akibatnya, tower antena MRC roboh. Para pelaku mempreteli bagian-bagian tertentu peralatan penting tersebut.
Dikatakan Ali, alat pencatat gempa ini tidak dijaga. Lokasi empat MRC yang dicuri berada terpisah di empat tempat yang berjauhan. Masing-masing di Desa Taba Renah (Kabupaten Rejang Lebong), Bermani Ilir (Kepahiang), Karang Tinggi (Bengkulu Utara) dan di Desa Sukaraja (Kabupaten Seluma). (tw/nvt)











































