Penegasan ini disampaikan Sekretaris Komisi D Bidang Pendidikan, DPRD Riau, Edi Ahmad RM dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (19/3/2008). Menurut Edi RM, tulisan baliho ucapan selamat atas pemberian anugerah pena emas dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat kepada gubernur sangat memalukan masyarakat Riau secara luas.
"Baliho yang salah tulis itu, sangat melakukan kita semua. Bayangkan baliho yang terpajang itu menampilkan wajah gubernur, tapi ada tulisan yang salah. Dan anehnya, baliho salah tulis itu dibiarkan terpajang sampai 4 hari tanpa perbaikan," kata Edi RM.
Edi RM mengingatkan, kedepan sebaiknya Pemprov Riau dalam memajang iklan sebaiknya menggunakan konsultan bahasa. Ini penting, agar bahasa dalam pemasangan baliho tidak terjadi kesalahan makna kata.
"Selama ini Pemprov Riau selalu berkoar-koar bahwa Riau adalah akan menjadi pusat kebudayaan melayu. Tapi kenapa kesalahan berbahasa justru terjadi di Riau. Katanya bahasa Melayu itu adalah embrio dari bahasa Indonesia. Ini sangat memalukan sekali," tegas Edi RM yang juga Ketua Dewan Kesenian Riau (DKR).
Sebagaimana diketahui, baliho raksasa berukuran 5m x 10 di Jl Sudirman, Pekanbaru itu bertuliskan "Tahniah atas penganugerahan PENA MAS kepada Gubernur Riau, Rusli Zainal. Di sana juga ada wajah Rusli Zainal berbalut baju melayu dengan Ketua Umum PWI Pusat, Tarman Azzam yang tersenyum. Maksud tulisan sesungguhnya adalah PENA EMAS, namun salah tulis menjadi PENA MAS.
Menurut Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Reformasi (PWIR), Korda Riau, Jupernalis Samosir kepada detikcom, kesalahan huruf bukan tidak mungkin akan menimbulkan pengertian yang berbeda dengan niat sebenarnya. Sehingga salah penulisan dampaknya bisa sangat fatal sekali, apa lagi ini menyangkut seorang tokoh publik.
"Sebaiknya kedepan Pemprov Riau harus berhati-hati dalam memasang baliho. Bukan tidak mungkin orang akan beranggapan yang salah menulis itu adalah sang tokoh yang ada di dalam baliho itu. Padahal kesalahan itu justru dilakukan oleh stafnya yang memesan baliho," kata Jupernalis wartawan Tempo itu. (cha/djo)










































