Fenomena Ayat Ayat Cinta (2)

Kontroversi Dongeng Cinta Fahri

- detikNews
Selasa, 18 Mar 2008 12:05 WIB
Jakarta - Seorang perempuan cantik asyik bercakap dengan seorang pria di sebuah kereta. Tangan si perempuan terangkat ke atas menggenggam pegangan agar tidak jatuh. Di tangan yang terangkat itu terlihatlah gambar salib.

Dialah Maria Girgis, perempuan Kristen koptik yang menjadi salah satu tokoh utama film Ayat Ayat Cinta (AAC). Meski Kristen, Maria sangat mengagumi Alqur'an. Ia bahkan hafal surat Maryam. "Aku sungguh suka Alquran. Aku hafal surat Maryam. Wallahi Fahri," kata Maria kenes pada si pria di sebelahnya, Fahri.

Lantas di hadapan Fahri, tokoh utama pria di AAC, Maria dengan gestur tubuh yang kemayu, melafalkan surat Maryam. Fahri, mahasiswa asal Indonesia yang sedang kuliah di Al Azhar, Kairo, Mesir pun terpesona. Ia belum tahu, Maria yang merupakan tetangga satu flat dengannya itu jatuh cinta padanya dan berusaha melakukan berbagai upaya untuk menunjukkan rasa cintanya.

Kisah selanjutnya Maria yang kemudian menjadi istri kedua Fahri masuk Islam. Sebelum meninggal, ia meminta sang suami dan Aisha, istri pertama Fahri, untuk salat berjamaah. Adegan ini berbeda dari novelnya yang menceritakan Maria masuk Islam setelah bermimpi kesulitan masuk surga. Dalam mimpinya, ia bisa masuk surga bila mempunyai kunci untuk membuka pintu surga. Menurut Bunda Maria yang menemuinya, kunci itu adalah membaca dua kalimat syahadat yang meruapakan pertanda seseorang masuk Islam. Di novelnya, selain Maria, ada Alicia, wartawan Amerika, yang kemudian juga masuk Islam.

Kisah masuk Islam ini kemudian menerbitkan kontroversi yang mengiringi sukses film AAC. Beberapa kalangan berpendapat, AAC merupakan hegemoni kelompok Islam tentang agama yang benar. Mereka memprotes tentang diskriminasi dan toleransi beragama. Di milis-milis, misalnya di milis mediacare, ada yang menuliskan pengandaian bila film berkisah sebaliknya, orang Islam masuk agama lain, pasti kelompok garis keras Islam akan menyerang pembuatan film tersebut.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidhan menilai tudingan itu berlebihan. Baginya, merupakan hal yang sah, bila Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim, ada film yang mengisahkan orang masuk Islam. Melihat kondisi Maria, yang tengah sakit dan sudah lama mengagumi Alquran, sangat wajar jika perempuan Kristen koptik itu lantas pindah agama dan mengikuti agama pria yang dicintainya.

"Biasalah orang yang sedang sakit lalu ingat Tuhan, di situ kan tidak ada pemaksaannya ia pindah agama. Jadi tidak perlulah didistorsi dan dilebih-lebihkan," kata Amidhan kepada detikcom.

Ayu Utami, sastrawan yang beragama Katolik juga menganggap polemik soal pindah agamanya Maria dalam AAC tidak perlu. Dalam kehidupan sehari-hari, soal pindah agama sudah merupakan hal biasa dan motifnya bisa macam-macam, bisa hanya karena kawin atau terancam maut. "Kita harus pandai memisahkan antara persoalan agama dengan sosial. Kalau soal kelompok keras Islam menyerang bila ada film orang Islam masuk agama lain itu masalah sosial budaya, bukan soal agama. Di mana-mana kelompok mayoritas, baik Islam atau Kristen, akan cenderung melakukan tindakan yang tidak benar dengan dalil membela agamanya," ulas penulis novel fenomenal "Saman" itu saat berbincang dengan detikcom.

Selain masalah pindah agama, film AAC juga menimbulkan kontroversi tentang kampanye poligami. Di film itu dikisahkan, Aisha, istri pertama Fahri meminta sang suami menikahi Maria yang sakit keras. Maria perlu disembuhkan karena dialah saksi kunci yang bisa membebaskan Fahri yang saat itu disidang dengan tudingan kasus perkosaan terhadap Noura. Selain Aisha, juga ada Nurul, perempuan yang jatuh cinta pada Fahri, yang juga bersedia dipoligami Fahri yang sudah menikah.

Kisah itu mengesankan bahwa poligami bukanlah kehendak laki-laki, tapi justru keinginan para perempuan. Wacana poligami di AAC dikritik terlalu menyederhanakan masalah. Karena pada realitasnya, mayoritas perempuan tidak ada yang mau dipoligami. "Kesannya jadi melegalkan poligami sebagai salah satu jalan keluar untuk mengangkat penderitaan perempuan. Saya pikir itu terlalu sederhana sekali," kritik Jaleswari Pramodhawardani, peneliti LIPI soal gender.

Ayu Utami justru menilai AAC pengecut dalam mewacanakan poligami. AAC berani mengangkat tema sensitif ini tapi kemudian buru-buru berkompromi dengan mematikan tokoh istri kedua. "Ia tidak berani ke titik ekstrim, dia hanya kembali ke titik yang happy ending," kritik Ayu.

Bila membandingkan dengan novelnya, cerita poligami di film AAC justru lebih berani. Meski tidak setajam film Berbagi Suami garapan Nia Dinata, AAC selain menawarkan solusi masalah dengan poligami, juga memberikan kritik atas poligami itu sendiri. Aisha misalnya meski dialah yang meminta Fahri menikahi Maria, ia digambarkan tidak bisa ikhlas dengan poligami itu. Ia memilih pergi ke rumah pamannya untuk menentramkan diri setelah tidak tahan mengalami dilema batin saat hidup serumah dengan madunya.

Sementara Maria, sebagai istri kedua, akhirnya menyadari kebodohannya dengan kehidupan poligaminya. Sebelum meninggal, dengan darah menetes dari hidungnya, Maria meminta maaf pada Fahri dan Aisha. "Aku minta maaf bukan karena kesalahanku, tapi kebodohanku. Sekarang aku tahu antara cinta dan keinginan untuk memiliki itu tidak sama," kata Maria di saat-saat akhir hidupnya.

Kontroversi lain dari film AAC adalah pernyataan seorang ulama yang menyatakan film besutan Hanung Bramantyo ini lebih berbahaya daripada film maksiat. Sang ulama berpendapat, hukum menonton film pada dasarnya adalah haram. Apapun alasannya, menonton film akan lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Misalnya ada yang sampai melupakan salat gara-gara menonton atau mengantre AAC. Ada pula yang berbuat maksiat di gedung bioskop karena tempatnya yang gelap.

Soal kontroversi haram menonton AAC ini, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidhan tidak sependapat. "Bukan menontonnya yang diharamkan. Tapi perbuatan maksiatnya, itulah yang haram. Lagi pula ini kan film dakwah, banyak segi positifnya yang bisa diambil," papar Amidhan kepada detikcom.

Menurut Amidhan, di zaman serba canggih, tidak ada salahnya umat Islam memanfaatkan modernitas untuk berdakwah. Film menjadi alternatif yang menarik, karena penyampaian dakwah bisa lebih tertangkap oleh audience.

(iy/nrl)