Seorang polisi berjaga di balik pintu bioskop. Meski pintu dibuka, pengunjung tidak boleh masuk. Ketika akhirnya loket dibuka dan diperbolehkan masuk, para pengantre langsung berlarian menyerbu loket. Antre panjang lagi dan berdesak-desakan lagi.
Semua orang itu rela antre dan berdesak-desakan, hanya untuk mendapatkan tiket film Ayat Ayat Cinta (AAC). Padahal hari itu, Minggu, 16 Maret 2008, pemutaran Ayat-Ayat Cinta telah memasuki minggu keempat sejak pertama diputar pada 21 Februari 2008.
Di Cinere mall, film yang diangkat dari novel berjudul sama karya Habiburrahman El Shirazy ini diputar di dua studio. Meski demikian penonton tetap harus antre panjang. Mereka yang datang siang sedikit harus rela antre untuk membeli tiket nonton malam. Tidak sedikit pula yang harus membeli tiket untuk nonton keesokan harinya.
Pemandangan tidak jauh berbeda juga terlihat di semua bioskop yang memutar AAC. Untuk Jakarta dan sekitarnya, film ini diputar di 45 bioskop dan selalu dibanjiri penonton. Saking membludaknya penonton, rata-rata bioskop tidak hanya menyediakan satu studio untuk AAC. Pondok Indah Mall 21 contohnya, selama berminggu-minggu memutar film ini di tiga studionya. Setiabudi One 21 malah lebih dahsyat lagi. Dari empat studio, hanya satu studio yang tidak menayangkan AAC.
ACC berkisah tentang pergolakan seorang laki-laki yang dicintai empat perempuan. Sekilas film ini mengingatkan pada film Catatan Si Boy yang populer pada era 1980-an. Kedua tokoh film ini, Si Boy (Ongky Alexander) dan Fahri bin Abdullah (Fedi Nuril) digambarkan sebagai pemuda yang teguh agamanya, digambarkan dengan berkali-kali salat, dan digandrungi cewek-cewek. Bedanya, Si Boy bergaya metropolis dan kuliah di Amerika, sementara Fahri, seorang santri yang kuliah di Al Azhar, Kairo, Mesir.
Tersebutlah, Fahri (diperankan kurang meyakinkan oleh Fedi Nuril) seorang pemuda yang miskin, orang tuanya harus menjual sawah untuk biaya kuliah di Al Azhar. Saat kuliah di Mesir ini, empat perempuan cantik jatuh cinta pada Fahri. Ada Maria Girgis (diperankan dengan cemerlang oleh Carrisa Putri), perempuan Kristen koptik, tetangga satu flat dengan Fahri.
Lalu Nurul (Melani Putria), anak seorang kiai terkenal di Jawa Timur yang juga mengeruk ilmu di Al Azhar. Noura (Zaskia Adya Mecca), tetangga Fahri yang selalu disiksa orang ayahnya. Dan Aisha (Rianti Cartwright), perempuan bercadar keturunan Turki yang kaya raya. Kisah cinta dengan empat perempuan ini selanjutnya mengubah total kehidupan Fahri yang sederhana.
Jauh sebelum filmnya diluncurkan, para pecinta novel AAC telah ramai memperbincangkannya begitu ada berita novel laris itu akan difilmkan. Seperti mengikuti sukses novelnya, film ini juga menjadi pembicaraan di mana-mana. Di kantor-kantor, di kantin, di angkot sampai di tempat pengajian dan arisan, orang ramai membahasnya. Perbincangan dari mulut ke mulut ini rupanya sangat efektif membantu film ini menjadi laris manis. Akhirnya tidak dinyana, AAC meledak meskipun para kritikus film menganggapnya sebagai film biasa dan tidak ada yang memuji atau merekomendasikan untuk menontonnya.
Boleh dikata ACC adalah film paling fenomenal tahun ini. Film ini mengalahkan Ada Apa dengan Cinta (AADC) dalam hal kecepatan mengumpulkan jumlah penonton. AADC ditonton 4 juta penonton dalam tempo 4 bulan. AAC, hanya butuh waktu kurang dari satu bulan, untuk ditonton lebih dari 2 juta orang.
Manoj Punjabi, produser Ayat Ayat Cinta optimis jumlah penonton film ini akan mencapai 7 juta orang. "Sekarang sudah 2,6 juta yang nonton," kata Manoj Punjabi, saat dihubungi detikcom pada Senin, 17 Maret 2008.
Menariknya, penonton AAC bukan saja berasal dari kalangan yang akrab dengan bioskop. Di tengah serbuan film bertemakan hantu dan sensualitas, AAC menjadi film paling aman untuk ditonton 'orang baik-baik'. Dengan film ini, para pria yang mempunyai pacar atau istri perempuan berkerudung misalnya, tidak akan merasa sungkan untuk mengajak kekasihnya nonton.
Tidak aneh pula jika orang-orang yang selama ini 'alergi' dengan bioskop pun seperti tersihir untuk menyaksikan film ini. Contohnya para pria yang mengenakan jubah dan surban bersama perempuan berbaju muslim longgar dan jilbab yang besar tampak keluar dari bioskop dari Pondok Indal Mall 21. Ada pula rombongan ibu-ibu pengajian dengan seragamnya, lengkap dengan baju dan kerudung dengan warna yang sama ikut memadati bioskop.
Lalu nenek-nenek yang sudah sangat lama absen dari nonton film pun tergerak hatinya untuk menyambangi bioskop. "Saya sudah 20 tahun tidak datang ke bioskop, terakhir saya nonton film Benyamin. Tapi kata anak saya ini film bagus, ini film dakwah, makanya saya mau ke bioskop," kata Ibu Khusnul, saat menunggu film AAC di bioskop Cinere Mall 21.
Nenek empat cucu yang telah menyiapkan tisu karena mendengar cerita AAC membuat orang menangis ini, datang ke bioskop bersama putri sulungnya. Demi menonton film ini, Riani, putri Ibu Khusnul, rela meninggalkan anak-anaknya yang masih balita di rumah. Suami Riani ketiban tugas menjaga anak-anaknya sementara.
Selain kalangan usia lanjut, anak-anak belia seperti siswa SD juga terpikat film ini. "Saya kelas lima SD. Kata kakak saya film ini bagus, saya penasaran," kata Deni yang ikut mengantre tiket. Deni membelikan tiket untuk lima teman lainnya.
Para politisi dan pesohor negeri ini pun tidak ketinggalan menonton AAC. Ada Ketua MPR Hidayat Nurwahid yang melakukan nonton bareng di studio 2 Bioskop 21 Plaza Senayan dengan politisi lainnya seperti Wakil Ketua MPR AM Fatwa, anggota DPR dari FPKS Fahri Hamzah dan Ketua Umum Partai Matahari Bangsa (PMB) Imam Addaruquthni. Presiden SBY disebut-sebut juga akan menonton AAC.
Lalu mantan Presiden Habibie bersama istrinya, Ny Ainun yang datang dari Jerman pun menyempatkan diri menontonnya. Menurut Habibie, AAC yang mengupas soal poligami layak tonton sebab memperlihatkan wajah Islam adalah toleransi. "Dialognya sangat menyentuh hingga saya, orang tua ini keluar air mata," aku Habibie.
Dibandingkan novelnya, film AAC yang menurut Manoj Punjabi menggabungkan gaya Hollywood dan Bollywood ini, memang lebih mengeksploitasi sisi romantisme sehingga bisa membuat orang menangis. Keteladanan karakter Fahri yang disorot dalam novelnya jadi berkurang. Film lebih banyak mengupas poligami Fahri yang konfliknya mengharubirukan perasaan.
Ahmadun Yossi Herfanda, sastrawan yang pertama mempublikasikan novel ACC sebagai cerita bersambung di Republika, agak kecewa dengan perbedaan tafsir film dari novelnya. Tapi ia mengaku bisa memahami film yang memakai logika dunia hiburan. "Ternyata masyarakat kita masih menyukai tontonan romantis yang menguras air mata," kata Ahmadun. (iy/nrl)











































