Jumlah WNI yang menjadi awal kapal mewah ini sekitar 500 orang yang sebagian besar bertugas di bagian cabin stewardess, services dan mekanik. Ada yang dari Jimbaran, Depok, Tangerang, Madura dan Tanjung Priok. Demikian dilaporkan reporter detikcom Luhur Hertanto yang mengikuti perjalanan dinas Presiden SBY di Iran dan Senegal, Kamis (13/3/2008).
Abd Thoyib (40) asal Madura, sudah sejak tahun 1992 bekerja sebagai mekanik di perusahaan pelayaran kargo raksasa Italia yang mengoperasikan MSC Musica. Saat itu dirinya justru sama sekali belum bisa berhasa Italia.
”Ya akhirnya saya kursus bahasa Italia dulu di Surabaya,” ujar warga Nahdliyin yang rajin ikuti perkembangan di Tanah Air melalui situs www.detik.com ini.
Salis (37) mengaku sudah empat tahun bekerja di MSC Musica. Selama itu, dirinya mampu menyisihkan uang yang lumayan bagi keluarganya di Jimbaran dan sudah mempunyai cukup tabungan untuk mendirikan usaha sendiri kelak.
”Asal tidak boros atau sering ke casino, ya lumayan juga tabungan kita,” ujar deputy sepervisor berpenghasilan USD 1.250 per bulan ini.
Selain penghasilan yang lumayan, jatah cuti bagi awal kapal pesiar juga menggiurkan, yaitu tiga bulan setiap tahunnya. Sehingga mereka tidak pernah absen untuk mudik lebaran ke kampung halaman masing-masing.
”Tapi saya nggak pernah lama-lama kalau mudik, dua bulan sudah cukuplah. Kerja lagi, cari duit lagi,” ujar Sardi yang baru saja menengok putranya di Depok.
Sehari-harinya kapal ini melayani jalur pelayaran wisata di sekitar lautan Adriatik sampai Kaspia. Bila di Eropa sedang musim dingin, kapal milik perusahan perkapalan nomer dua terbesar dunia ini mengalihkan operasinya ke Florida dan Miami, AS.
”Enaknya kita bisa ikut piknik keliling dunia. Tapi kerjanya itu, luar biasa capeknya, hampir-hampir nggak ada waktu istirahat,” ujar Sudrika asal Bali.
(lh/nrl)











































