Para buruh tersebut kemudian dirawat dilarikan ke rumah sakit. Sembilan di antaranya harus dirawat di rumah sakit untuk observasi karena keluhan yang diderita lebih serius.
Hartini, salah seorang karyawan yang dirawat menuturkan, Selasa 11 Maret siang, semua karyawan yang masuk kerja pagi menerima jatah makan siang. Jatah makan siang berupa nasi, opor ayam dan sambal itu dimasak oleh katering yang ditunjuk perusahaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Malam harinya Hartini merasa mual dan muntah disertai buang air beberapa kali. Kondisi itu tidak semakin membaik hingga Rabu pagi. Rupanya teman-teman Hartini di pabrik yang masuk pagi pada hari Selasa juga mengalami hal serupa.
Akhirnya, 25 di antara mereka dibawa ke RSUD Pandanarang. Sedangkan 27 orang lainnya dibawa RS Al-Amin, Boyolali. Dari jumlah itu sembilan di antaranya harus mendapat perawat khusus, tiga orang di RSUD Pandanarang dan enam di RS Al-Amin, Boyolali. Sisanya diperbolehkan pulang sebagai pasien rawat jalan.
"Keterangan dari pasien sebelumnya bersama-sama memakan makanan yang diduga kurang sehat. Gejala yang mereka derita juga sama. Untuk sementara dugaan kami mereka mengalami keracunan makanan. Kesimpulannya nanti menunggu hasil laboratorium," ujar Siti Nurrohmah, dokter jaga di RSUD Boyolali.
Siti memastikan pasien yang terpaksa harus dirawat di rumah sakit untu observasi dalam kondisi yang semakin membaik. Namun demikian mereka belum diperbolehkan pulang karena masih cukup lemah.
Seluruh pasien yang dirawat di kedua rumah sakit mengaku semua biaya perawatan ditanggung oleh perusahaan. Semua karyawan yang diduga mengalami keracunan itu diliburkan selama tiga hari.
(mbr/djo)











































