"Sejak revolusi Islam, pria Iran 'diimbau' tidak lagi pakai dasi, sebab dianggap simbol Barat. Makanya semua di sini tidak ada orang berdasi," jelas pemandu saya, Bakhir, mahasiswa asal Banjarsari yang belajar filsafat Islam di Universitas Imam Khameini, Qom, Iran.
Mendengar penjelasan ini, baru saya paham mengapa Presiden Ahmadinejad tidak pakai dasi saat menerima Presiden SBY. Saya yang sedang berada di Teheran mengikuti lawatan Presiden SBY jelas menyadari bahwa ini adalah saltum, alias salah kostum.
Beruntung bagi teman-teman wanita, mereka telah berbekal pasmina atau kerudung. Ini memang asesoris wajib bagi wanita - tak terkecuali WNA - selama beraktivitas di tempat-tempat publik di seantero Iran.
Jilbab atau chador hitam yang merupakan 'warisan' dari Revolusi Islam 1979 masih dikenakan sebagian besar wanita Iran ketika keluar rumah. Tapi seiring perkembangan zaman, tentu saja ada sedikit 'modifikasi' sesuai usia pemakainya.
Wanita karier Iran yang sadar mode dan suka berdandan, cenderung mengenakan busana ringkas dipadu kerudung tipis (apa pun warna dan motifnya, asal bukan hitam polos) yang memperlihatkan sedikit rambut di atas dahi mereka. Banyak juga yang mengecat pirang atau merah rambut mereka.
Sementara yang lebih muda, memilih memadukan chador dengan tunik belah tengah atau jas sebatas lutut. Sehingga terlihat celana panjang jeans, boot kulit atau sepatu olahraga warna-warni merek ternama.
Sedangkan yang berusia lanjut tetap setia dengan busana longgar - tanpa jeans tentu - dan chador hitam yang merupakan 'seragam wajib' wanita Iran. Menghormati budaya ini, wanita WNA diminta untuk mengenakan chador saat berada di tempat publik di Iran.
In any way, these women look beautiful. (lh/asy)











































