Secara umum, seperti dilaporkan wartawan detikcom Luhur Hertanto yang mengikuti lawatan Presiden SBY ke Teheran, produk made in Korea Selatan yang mendominasi pasar Iran, baik barang elektronik maupun otomotif. Menyusul kemudian produk dari Jepang, Jerman dan Prancis.
Yang menarik, industri otomotif nasional Iran berkembang sangat baik. Buktinya ada empat merek mobil lokal yang beredar, yaitu Paisan, Samand, Karsan, dan Saipa. Salah satunya berbagi platform produk sedan kecil buatan pabrikan KIA asal Korsel.
Sedangkan produk AS, lumayan berjaya di sektor fashion. Meski secara politis anti AS, warga Iran cukup terbuka dengan asesoris dan pakaian buatan AS yang memang kerap menjadi trend setter dunia.
Memang, tidak dipungkiri bahwa blokade AS yang dijatuhkan menyusul Revolusi Islam Iran 1979 berdampak bagi perekonomian Iran. Ini bisa dilihat dari tingkat inflasi yang berkisar 15 persen per tahun.
Tapi dampak paling mencolok dari blokade AS adalah suburnya sikap anti AS di kalangan warga Iran. Keputusan DK PBB mengeluarkan resolusi baru untuk kasus krisis nuklir Iran, juga dilihat atas sponsor dari AS mengingat Presiden George W. Bush yang menuding Iran-Irak-Korea Utara sebagai Poros Setan.
Semangat anti AS ini di satu sisi merupakan 'berkah' bagi pemerintah Iran. Presiden Mahmoud Ahmadinejad tidak perlu meragukan dukungan warga dalam menghadapi tekanan PBB untuk menghentikan pengayaan nuklir yang mereka lakukan.
βKami harus mencari sumber energi baru agar tidak bergantung kepada Barat. Sekarang yang perlu dilakukan terus menyakinkan internasional, bahwa program nuklir kami bukan untuk perang,β kata Amin Kavoosh, pemilik toko di Commercial Centre, Esteghal Hotel, Teheran, Iran, tentang pandangan politiknya, Selasa (11/3/2008). (lh/asy)











































