"Buaya-buaya itu bukan mengamuk, tapi insting hewan yang kelaparan atau untuk bertahan hidup. Mereka kelaparan lantaran tidak ada lagi makanan, sebab hutan yang berada di Desa Mukut dan sekitarnya sudah rusak dirambah," simpul aktivis lingkungan hidup Sutrisman Dinah, dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (11/03/2008).
Sutrisman yang baru pulang bersama tim khusus, melakukan survei di sungai tersebut. Dari fakta yang ditemukan di lapangan, akibat hutan yang sudah rusak makanan seperti ikan dan monyet menjadi berkurang.
Hasil survei yang dilakukan sepanjang hari ini memperkirakan jumlah buaya yang berada di sungai itu ratusan ekor. "Kita tidak membunuhi mereka. Kita hanya melakukan survei, dan kesimpulan saya buaya-buaya itu mengamuk lantaran lingkungan hidup di sekitarnya sudah rusak," kata Sutrisman yang juga jurnalis ini.
Sebelumnya sebagian warga Pulaurimau maupun masyarakat Sumsel yang mendengarkan cerita tersebut, menghubungkannya dengan hal-hal mistis. Misalnya buaya-buaya itu merupakan jelmaan jin yang merasa terganggu keberadaan mereka. Apalagi sebelumnya sejumlah siswa di Sumsel kesurupan akibat kemasukan jin.
"Ini menjelang Pilkada, mungkin banyak jin yang tidak senang janji politik para calon," komentar Koharuddin (65), warga Kertapati, Palembang.
(tw/bal)











































