"Justru tidak. Karena dengan angka itu, posisi partai Golkar juga tetap tidak aman," kata Ketua Fraksi Partai Golkar Priyo Budi Santoso kepada detikcom di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (11/3/2008).
Sebab menurut Priyo, sebagai salah satu partai besar pun Partai Golkar tidak mudah untuk meraih persentase tersebut pada pemilu legislatif 2009. Jika syarat tersebut disepakati, lanjutnya, akan memaksa partai-partai untuk melakukan koalisi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Partai Golkar moderat saja. Apapun yang terbaik untuk membangun sistem politik dan demokrasi yang baik. Kami masih bisa duduk bersama dengan fraksi lain," cetusnya.
Sementara Ketua FPKS Mahfudz Sidiq menyebutkan usulan FPG tersebut sangat tidak relevan untuk pemilu mendatang. "Usulan itu bagus, tapi tidak sesuai dengan realitas sosial politik," cetusnya.
Dia mencontohkan, perilaku pemilih yang sering dualistik, yaitu pilihan terhadap partai politik yang berbeda dengan pilihan terhadap calon. Fenomena itu terjadi dalam pilkada.
"Tidak otomatis pilihan mereka terhadap partai sama dengan pilihan terhadap capres," imbuhnya.
Karena itu, menurut anggota Komisi II ini, angka yang mendekati realistik adalah 20 persen, atau sesuai dengan pemilu 2004.
"Jadi FPKS usulkan cukup 20 persen, sehingga bisa muncul seidkitnya 3 pasang calon dalam pilpres," pungkas Mahfudz.
(rmd/bal)











































