Warga Kompleks Pejambon Tolak Digusur TNI AD

Warga Kompleks Pejambon Tolak Digusur TNI AD

- detikNews
Selasa, 11 Mar 2008 12:15 WIB
Jakarta - Puluhan warga Kompleks Direktorat Perhubungan Angkatan Darat Batalyon Perhubungan TNI AD menggelar dialog. Mereka menolak digusur oleh TNI AD pada 24 Maret.

Turut hadir dalam pertemuan itu anggota Komisi I DPR, Permadi. Pertemuan digelar di Jl Pejambon I No 5, Jakarta Pusat, Selasa (11/3/2008).

Warga kecewa terhadap keputusan Komandan Batalyon Perhubungan Letkol I made Agung Ambara pada 9 Mei 2007. Menurut mereka, kompleks tersebut merupakan tanah milik Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Warga juga menolak keras dilakukan penggusuran dengan alasan telah tinggal sejak tahun 1960.

"Keputusan itu keliru. Rumah-rumah yang berdiri itu di atas gereja, bukan tanah TNI. Jadi ngapain digusur, TNI tidak berhak," kata ketua tim pendamping warga, Masinton Pasaribu.

Anggota Komisi I DPR Permadi mendukung perjuangan warga yang tidak mau digusur. Menurut Permadi, sebelumnya sudah ada kesepakatan dengan KSAD bahwa rumah veteran dan purnawirawan tidak akan digusur dari rumah dinas sampai meninggal.

"Bagi rumah yang ditempati oleh saudara dan sepupu baru tergantung TNI. Kalauย  mau digusur pun harus bermartabat dan memperoleh ganti rugi," ujar dia, diiringi tepuk tangan warga yang kebanyakan manula.

Sedikitnya 4 spanduk besar penolakan sudah dibentangkan warga, antara lain berbunyi "Warga Kompleks Pejambon Menolak Pengosongan Rumah".

Meski pertemuan dilakukan secara santai, namun penjagaan tetap ketat. Para anggota TNI berseragam berseliweran, bolak-balik mengecek. Petugas kepolisian dari Polsek Gambir ikut disiagakan.

Salah satu warga Kompleks Pejambon, Sriyanto (70), menuturkan, dia telah tinggal di pemukiman tersebut sejak belum menikah. Dahulu kompleks tersebut berbentuk barak.

"Saya ikut gerilya di Yogya. Saya dapat medali penghargaan gerilya. Saya bisa nembak Belanda waktu itu. Lalu saya dikasih sebidang barak di kompleks itu. Setelah menikah saya perbaiki. Sekarang giliran sudah bagus eh kok main gusur," sesal Sriyanto yang tinggal di barak B sambil menunjukkan kartu veteran.

Menurut Sriyanto, dalam penggusuran ini, diberi santunan Rp 5 juta/rumah.

Ketika ditanya akan ke mana jika penggusuran dilakukan dia mengatakan, "Enggak tau, Mas. Pokoknya kita enggak mau pindah."

"Mau menikmati hari tua yang sedikit nyaman saja eh diusik-usik," timpalnya geram.

(ptr/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads